RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman terbaru terhadap Iran.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyebut infrastruktur vital seperti jembatan dan pembangkit listrik akan menjadi target berikutnya dalam operasi militer yang sedang berlangsung.
Melalui akun media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat belum sepenuhnya digunakan. “Militer kita, yang terkuat dan paling kuat (sejauh ini!) di mana pun di dunia, bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran. Jembatan berikutnya, lalu Pembangkit Listrik! Kepemimpinan rezim baru tahu apa yang harus dilakukan, dan harus dilakukan dengan cepat!” tulisnya, Senin (6/4).
Baca Juga: Dituding Danai Polemik Ijazah Jokowi, JK Siapkan Laporan Polisi
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Trump menyampaikan pidato resmi kepada publik Amerika Serikat terkait Operasi Epic Fury yang dimulai pada 28 Februari lalu. Dalam pidato itu, Trump kembali menegaskan pendekatan keras terhadap Teheran.
“Kita akan menghantam mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan. Kita akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada,” kata Trump.
Operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel sejak akhir Februari disebut menjadi titik balik eskalasi konflik. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Dampak serangan ini memicu respons keras dari Teheran.
Baca Juga: Monaco Kalahkan Marseille 2-1, Rekor 7 Kemenangan Beruntun di Ligue 1
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan menggunakan drone dan rudal yang menyasar wilayah Israel serta beberapa negara lain, termasuk Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat. Serangan balasan ini memperluas potensi konflik lintas kawasan.
Di tengah situasi yang semakin memanas, Iran juga mengambil langkah strategis dengan membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.
Kebijakan tersebut dinilai dapat berdampak signifikan terhadap distribusi minyak global dan stabilitas ekonomi internasional.
Trump turut menyoroti langkah Iran tersebut dan menuntut agar akses di Selat Hormuz segera dibuka kembali. Ia memperingatkan bahwa penutupan jalur tersebut akan memperpanjang tekanan terhadap Iran.
Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa konflik tidak hanya berpotensi meluas secara militer, tetapi juga berdampak pada sektor ekonomi global.
Editor : Bayu Shaputra