RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah saling melontarkan pernyataan keras yang berpotensi memperkeruh situasi kawasan. Pemerintah Iran menegaskan bahwa tidak ada ancaman yang mampu merusak peradaban mereka yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, sebagai respons atas ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan Washington siap menghancurkan “seluruh peradaban” Iran.
Pernyataan Trump itu memicu reaksi keras dari Teheran yang menilai ancaman tersebut tidak akan menggoyahkan fondasi bangsa mereka.
Baca Juga: Investigasi PBB: Peluru Tank Israel dan IED Diduga Jadi Penyebab Gugurnya Tiga Prajurit TNI
Melalui pernyataan yang diunggah di platform X pada Selasa (7/4), Mohajerani menegaskan sikap pemerintah Iran dalam menghadapi tekanan eksternal.
“Suatu bangsa yang memiliki keyakinan penuh akan kebenaran jalannya, akan mengerahkan seluruh kapasitas dan kemampuannya untuk melindungi hak dan kepentingannya yang sah,” tulisnya. Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur dalam mempertahankan kepentingan nasionalnya.
Pemerintah Iran juga menekankan bahwa keamanan nasional tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah yang diambil. Meski menghadapi ancaman terbuka, Teheran menyatakan akan menangani situasi dengan penuh kehati-hatian guna menghindari eskalasi yang lebih luas.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Hari Ini: Hujan Ringan hingga Lebat Guyur Kota Besar Indonesia
Di sisi lain, pernyataan Trump mempertegas tekanan dari Washington. Ia mengancam akan melancarkan serangan terhadap infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz serta mencapai kesepakatan dalam batas waktu yang telah ditentukan. Tenggat waktu tersebut disebut jatuh pada Rabu pukul 07.00 WIB.
Ancaman tersebut muncul di tengah situasi kawasan yang telah berada dalam kondisi siaga tinggi sejak akhir Februari lalu.
Pada 28 Februari, serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran memicu respons cepat dari Teheran. Ketegangan pun meningkat tajam dan meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan menggunakan pesawat nirawak dan rudal yang menyasar sejumlah titik strategis. Target serangan meliputi Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang diketahui menampung aset militer Amerika Serikat.
Aksi tersebut memperlihatkan kemampuan militer Iran sekaligus menjadi sinyal bahwa mereka siap merespons tekanan dengan kekuatan.
Serangan balasan itu tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah.
Dampaknya turut dirasakan secara global, terutama pada sektor ekonomi dan transportasi udara. Gangguan terhadap pasar internasional dan penerbangan menjadi salah satu konsekuensi dari eskalasi konflik yang terus berkembang.
Editor : Bayu Shaputra