RADARSITUBONDO.ID - Serangan udara besar-besaran kembali dilancarkan Israel ke wilayah selatan Beirut, tepatnya di kawasan Dahiyeh, pada Rabu (8/4). Ledakan keras dilaporkan terdengar di sejumlah titik, disertai kepulan asap tebal yang membumbung dari area yang menjadi sasaran.
Berdasarkan laporan lapangan, intensitas serangan kali ini tergolong tinggi dan terjadi dalam waktu singkat. Militer Israel sebelumnya menyatakan telah menggempur lebih dari 100 lokasi dalam rentang 10 menit. Target serangan tersebar di Beirut, Lembah Beqaa, hingga wilayah selatan Lebanon.
Gelombang serangan tersebut disebut sebagai yang terbesar sejak konflik terbuka antara Israel dan kelompok Hizbullah pecah pada 2 Maret lalu. Eskalasi yang terus meningkat itu memperparah situasi kemanusiaan di wilayah terdampak.
Baca Juga: Gunung Semeru Kembali Erupsi, PVMBG Keluarkan Imbauan Waspada untuk Warga
Data sementara menunjukkan jumlah korban tewas akibat serangan mencapai sedikitnya 254 orang, dengan 92 di antaranya berada di Beirut. Angka tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses evakuasi dan pendataan korban yang terus berlangsung.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menegaskan situasi yang dihadapi negaranya semakin mengkhawatirkan. “Kami menghadapi eskalasi berbahaya yang terjadi di Lebanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan selatan,” ujarnya.
Serangan ini terjadi hanya sehari setelah Iran dan Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan tersebut sebelumnya diharapkan dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik yang lebih luas di kawasan, khususnya perang yang melibatkan Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran sejak akhir Februari.
Baca Juga: 5.828 Anak di Situbondo Tak Sekolah, DPRD Desak Tambah Kuota Beasiswa!
Namun, perkembangan terbaru justru menunjukkan situasi yang semakin tidak stabil. Konflik yang meluas di Timur Tengah tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga berdampak pada sektor global. Gangguan penerbangan internasional mulai terjadi di sejumlah jalur strategis, sementara ketegangan di kawasan energi semakin meningkat.
Salah satu dampak paling signifikan terlihat pada pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz. Jalur vital yang berada di bawah kendali Iran tersebut menjadi titik krusial distribusi energi dunia.
Pembatasan yang dilakukan sebagai respons terhadap serangan AS-Israel memicu kekhawatiran akan krisis energi global.
Editor : Bayu Shaputra