RADARSITUBONDO.ID - Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran pada Rabu (8/4/2026) memicu gelombang ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas serangan Israel ke wilayah Lebanon, yang dinilai mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang baru saja disepakati dengan Amerika Serikat. Jalur vital distribusi energi global itu kembali tersendat, menimbulkan kekhawatiran luas terhadap stabilitas pasokan minyak dan gas dunia.
Dari Washington, Gedung Putih mendesak agar selat segera dibuka. Pemerintah AS menegaskan komitmen menjaga proses diplomasi tetap berjalan sesuai rencana. Namun di lapangan, situasi justru menunjukkan eskalasi.
Serangan drone dan misil masih dilaporkan terjadi di wilayah Iran dan negara-negara Teluk, meski kedua pihak mengklaim kemenangan atas kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Baca Juga: Iran Ancam Cabut Gencatan Senjata Jika Israel Terus Serang Lebanon
Di saat bersamaan, Israel memperluas operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Serangan diarahkan ke kawasan komersial dan permukiman di Beirut. Korban jiwa terus bertambah.
Sedikitnya 182 orang dilaporkan tewas dalam satu hari, menjadikannya hari paling mematikan sejak konflik berlangsung. Sementara laporan lain menyebut angka korban mencapai 254 orang dengan lebih dari seribu korban luka.
Juru bicara Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kesepakatan tersebut sebagai “rapuh”. Pernyataan itu mempertegas kekhawatiran bahwa perjanjian damai berpotensi runtuh sewaktu-waktu.
Baca Juga: Gencatan Senjata Iran-AS Tak Redam Serangan Israel di Beirut
Dari Teheran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan rencana pembicaraan lanjutan “tidak masuk akal” karena Washington dianggap telah melanggar sejumlah poin penting yang disepakati.
Pelanggaran yang dimaksud mencakup serangan Israel terhadap Hizbullah, dugaan pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone AS setelah gencatan senjata, serta penolakan AS terhadap program pengayaan uranium Iran dalam kesepakatan akhir.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa berakhirnya konflik di Lebanon merupakan bagian tak terpisahkan dari kesepakatan gencatan senjata.
Baca Juga: Timnas Futsal Indonesia Sempurna di Fase Grup, Hector Souto Soroti Performa dan Evaluasi
Namun, posisi berbeda disampaikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. Keduanya menyatakan bahwa gencatan senjata tidak mencakup wilayah Lebanon.
Pernyataan ini bertolak belakang dengan sikap mediator dari Pakistan yang menegaskan bahwa kesepakatan berlaku “di mana saja, termasuk Lebanon dan wilayah lain.”
Iran juga menyebut kesepakatan tersebut memberi ruang untuk mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Jalur ini diketahui menjadi penghubung sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas global.
Namun Gedung Putih langsung menolak kebijakan tersebut. Trump menegaskan tidak akan menerima adanya pungutan bagi kapal internasional yang melintas.
Baca Juga: Desain iPhone 18 Pro Max Terungkap, Dynamic Island Diperkecil
Dampak penutupan selat mulai terasa. Hanya 11 kapal yang tercatat berhasil melintas pada Rabu, angka yang relatif stagnan dibanding hari sebelumnya. Sejumlah kapal besar bahkan dilaporkan terpaksa membayar hingga 1 dolar per barel untuk tetap melanjutkan perjalanan.
Di tengah ketegangan ini, isu program nuklir Iran kembali mencuat. Meski serangan militer telah dilakukan secara masif oleh AS dan Israel, ancaman terkait pengembangan nuklir dan rudal Iran dinilai belum mereda.
Trump menyatakan pihaknya siap bekerja sama dengan Iran untuk menghapus uranium yang telah diperkaya, meski belum ada konfirmasi resmi dari Teheran.
Sementara itu, Kepala Staf Israel Eyal Zamir menegaskan bahwa negaranya akan terus memanfaatkan setiap peluang untuk menyerang Hizbullah.
Dalam salah satu serangan terbaru, lebih dari 100 titik di Lebanon dihantam hanya dalam waktu 10 menit, menjadikannya salah satu gelombang serangan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Dari kawasan regional, Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menuduh Israel secara konsisten berupaya menggagalkan kesepakatan damai. Di sisi lain, Hizbullah belum memastikan sikapnya terhadap gencatan senjata, meski menyatakan terbuka terhadap upaya mediasi.
Sebelumnya, Iran sempat memberikan jaminan akan membuka Selat Hormuz selama dua pekan dan menyediakan jalur aman bagi pelayaran internasional. Namun serangan Israel ke Lebanon memicu respons keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam pernyataannya, IRGC menyampaikan ancaman balasan.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Mengintai Situbondo, BPBD Hanya Andalkan 1 Armada Tua Saat Kemarau!
“Kami mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, yang melanggar perjanjian, dan kepada sekutu Zionisnya, algojonya. Jika agresi terhadap Lebanon tercinta tidak segera berhenti, kami akan memenuhi kewajiban kami dan memberikan tanggapan,” kata IRGC.
“Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola sekarang berada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya,” kata Araghchi.
Editor : Bayu Shaputra