RADARSITUBODO.ID - Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah pertemuan langsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon pada pekan depan. Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya lanjutan untuk membahas negosiasi gencatan senjata di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Seorang pejabat dari Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi rencana tersebut. “Kami dapat mengonfirmasi bahwa Departemen akan menjadi tuan rumah pertemuan pekan depan untuk membahas negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Israel dan Lebanon,” ujarnya, Kamis (9/4).
Berdasarkan laporan yang beredar, delegasi AS akan dipimpin oleh Duta Besar untuk Lebanon Michel Issa. Sementara itu, pihak Israel akan diwakili oleh Duta Besarnya untuk Washington, Yechiel Leiter, dan Lebanon diwakili oleh Duta Besar Nada Hamadeh-Moawad.
Baca Juga: Realme C100 4G Resmi Rilis, Baterai 8000 mAh dan Fast Charging 45W
Di sisi lain, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, sebelumnya menyampaikan bahwa wacana gencatan senjata dengan Israel yang dilanjutkan dengan pembicaraan langsung mulai menunjukkan perkembangan positif di tingkat internasional.
Pernyataan tersebut mencerminkan adanya dorongan baru untuk meredakan konflik yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Namun situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Militer Israel dilaporkan meningkatkan intensitas serangan udara ke berbagai wilayah di Lebanon sejak Rabu (8/4).
Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 303 orang tewas dan 1.150 lainnya mengalami luka-luka, meskipun sebelumnya telah diumumkan adanya gencatan senjata selama dua pekan yang melibatkan AS dan Iran.
Baca Juga: WFH ASN 2026 Setiap Jumat Berlaku Hari Ini, Pemerintah Tegaskan Bukan Hari Libur
Perbedaan pandangan terkait cakupan gencatan senjata juga muncul. Mediator dari Pakistan bersama pihak Teheran menyatakan bahwa kesepakatan tersebut turut mencakup Lebanon. Namun klaim itu dibantah oleh pihak Tel Aviv yang tidak mengakui keterlibatan Lebanon dalam kesepakatan tersebut.
Sejak 2 Maret, eskalasi serangan Israel di Lebanon telah menimbulkan dampak besar. Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat total korban tewas mencapai 1.888 orang, dengan 6.092 lainnya mengalami luka-luka. Angka ini menunjukkan bahwa konflik masih berlangsung intens meskipun upaya diplomatik terus diupayakan.
Editor : Bayu Shaputra