RADARSITUBONDO.ID - Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Meski kedua pihak mengakui adanya titik temu dalam sejumlah isu, perbedaan pandangan pada beberapa hal krusial menjadi penghambat utama tercapainya hasil akhir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa kegagalan tersebut tidak lepas dari perbedaan posisi pada isu-isu penting yang belum dapat dijembatani.
“Kami mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu, namun pandangan kami berbeda pada dua atau tiga isu penting, dan pada akhirnya pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan,” ujarnya seperti dikutip kantor berita Mehr.
Ia tidak merinci isu apa saja yang masih menjadi titik sengketa, namun menekankan bahwa perbedaan tersebut cukup signifikan untuk menghentikan proses negosiasi.
Baca Juga: Viral Sumpah Injak Al-Qur’an di Lebak, Dua Perempuan Jadi Tersangka
Pertemuan yang digelar pada Sabtu, 11 April itu merupakan kelanjutan dari dinamika hubungan kedua negara yang sempat mencair setelah pengumuman dari Presiden AS, Donald Trump, mengenai kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan Teheran.
Kesepakatan tersebut sempat memunculkan harapan baru akan adanya terobosan diplomatik, terutama dalam meredakan ketegangan yang telah berlangsung lama.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi tantangan besar.
Baca Juga: KPK Ungkap Dugaan Pemerasan yang Dilakukan Bupati Tulungagung, 16 Kepala OPD Jadi Korban
Pada Minggu pagi (12/4), Wakil Presiden AS sekaligus pemimpin delegasi perundingan, J.D. Vance, menyampaikan bahwa pembicaraan yang berlangsung cukup panjang tidak membuahkan hasil konkret. Ia memastikan bahwa delegasi Amerika Serikat akan kembali ke negaranya tanpa membawa kesepakatan.
Situasi ini menegaskan bahwa meskipun ada kemajuan parsial dalam dialog, perbedaan mendasar masih membayangi hubungan kedua negara.
Kegagalan di Islamabad juga menjadi sinyal bahwa proses negosiasi ke depan kemungkinan masih akan berlangsung alot, terutama jika isu-isu utama yang menjadi ganjalan belum menemukan titik kompromi.
Editor : Bayu Shaputra