RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah Inggris memastikan tidak akan terlibat dalam rencana blokade militer yang diumumkan Amerika Serikat terhadap Iran di Selat Hormuz. Sikap tersebut menegaskan posisi London yang memilih menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional tanpa ikut dalam eskalasi konflik.
Informasi yang diperoleh BBC menyebutkan, kapal perang maupun personel militer Inggris tidak akan digunakan untuk menutup akses pelabuhan Iran.
Meski demikian, Inggris tetap mempertahankan kehadiran militernya dalam bentuk operasi terbatas, termasuk pengerahan kapal penyapu ranjau serta kemampuan pertahanan anti-drone di kawasan tersebut.
Seorang juru bicara pemerintah Inggris menegaskan bahwa prioritas utama adalah menjaga jalur perdagangan global tetap terbuka. "Kami terus mendukung kebebasan navigasi dan pembukaan Selat Hormuz, yang sangat dibutuhkan untuk mendukung ekonomi global dan biaya hidup di dalam negeri," ujarnya.
Baca Juga: Negosiasi 20 Jam di Islamabad Buntu, Trump Kecam Sikap Iran
Dalam komunikasi sebelumnya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menekankan pentingnya kerja sama internasional. Ia mendorong pembentukan koalisi luas bersama negara-negara mitra guna memastikan keamanan pelayaran di kawasan strategis tersebut.
" Kami sedang bekerja secara mendesak dengan Prancis dan mitra lainnya untuk membentuk koalisi luas guna melindungi kebebasan navigasi," kata juru bicara tersebut. Ia juga menegaskan bahwa kapal yang melintasi Selat Hormuz tidak seharusnya dikenakan biaya tambahan.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa Iran mulai memberlakukan biaya transit sebesar 2 juta dolar AS atau sekitar Rp 34 miliar bagi kapal tanker yang melintas. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memperburuk ketegangan sekaligus menambah beban biaya perdagangan global.
Baca Juga: Prabowo Subianto Bertolak ke Moskow, Bahas Energi dan Geopolitik dengan Putin
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan langkah tegas berupa blokade terhadap akses pelabuhan Iran. Keputusan itu diambil setelah upaya negosiasi antara Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
Setelah pertemuan antara delegasi AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, Trump menyatakan bahwa pihaknya akan memblokir seluruh kapal yang berupaya keluar masuk Selat Hormuz. Komando Pusat AS kemudian mengonfirmasi rencana tersebut, dengan menyebut bahwa pasukan akan mengawasi dan membatasi pergerakan kapal yang terhubung dengan pelabuhan Iran, baik di Teluk Arab maupun Teluk Oman.
Meski demikian, otoritas militer AS menegaskan tidak akan mengganggu kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan non-Iran. Informasi teknis terkait pelaksanaan blokade akan disampaikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan resmi sebelum kebijakan tersebut diberlakukan.
Trump juga menyebut adanya kemungkinan keterlibatan negara lain dalam operasi tersebut, meskipun tidak merinci pihak-pihak yang dimaksud. Ia menambahkan bahwa aliansi NATO telah menawarkan bantuan untuk memastikan jalur pelayaran dapat kembali digunakan secara normal dalam waktu dekat.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Mengancam! Situbondo Cuma Andalkan 1 Truk Tangki, DPRD Soroti Anggaran Mandek
Dalam pernyataannya kepada media, Trump mengungkapkan rencana pengerahan kapal penyapu ranjau sebagai bagian dari operasi. "Saya mengerti bahwa Inggris dan beberapa negara lain mengirimkan kapal penyapu ranjau," ujarnya.
Namun, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan sikap resmi Inggris. London tetap menegaskan bahwa kehadirannya di kawasan semata-mata untuk menjaga keamanan navigasi, bukan untuk mendukung langkah blokade militer terhadap Iran.
Editor : Bayu Shaputra