Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Upaya Damai Terus Berlanjut, Peluang Negosiasi AS-Iran Masih Terbuka

Bayu Shaputra • Selasa, 14 April 2026 | 08:16 WIB
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026.  (Jawapos)
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. (Jawapos)

 

RADARSITUBONDO.ID - Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan bahwa upaya diplomatik untuk menjembatani perbedaan antara Amerika Serikat dan Iran masih terus dilakukan. Hal itu disampaikan menyusul perundingan tingkat tinggi kedua negara yang berlangsung di Islamabad namun belum menghasilkan kesepakatan konkret.

Dalam rapat kabinet di Islamabad, Senin (13/4), Sharif menyebut pertemuan tersebut sebagai momentum penting. “Perundingan Islamabad merupakan momen bersejarah tersendiri,” kata Sharif.

Pakistan sebelumnya berperan sebagai mediator bersama Turki, Arab Saudi, dan Mesir. Upaya itu membuahkan gencatan senjata sementara selama 14 hari antara Washington dan Teheran yang disepakati pada Rabu (8/4).

Kesepakatan tersebut menghentikan sementara ketegangan yang meningkat setelah konflik bersenjata selama berminggu-minggu, yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu.

Baca Juga: Terkuak! Lebih dari Satu Tersangka Korupsi PUPR Situbondo, Tiga Nama Sudah Dikantongi

Dalam perundingan yang berlangsung intensif, Wakil Presiden AS J.D. Vance memimpin delegasi Washington dan bertemu langsung dengan tim Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf. Negosiasi berlangsung selama 16 jam tanpa jeda sepanjang akhir pekan di ibu kota Pakistan.

Meski disebut sebagai salah satu pertemuan paling signifikan sejak putusnya hubungan diplomatik antara kedua negara pada 1979, dialog tersebut belum mampu meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Sebelum meninggalkan Islamabad, Vance mengakui tidak adanya perkembangan berarti dalam pembicaraan tersebut. Ia menegaskan bahwa salah satu tuntutan utama Washington adalah komitmen Iran untuk tidak melanjutkan pengembangan senjata nuklir. “Sayangnya, kami tidak dapat mencapai kemajuan apa pun,” ujarnya kepada wartawan.

Baca Juga: Inspiratif! Susiana, SP, MM, Kepala SMKN 1 Kendit Cetak Siswa Kompeten, Susiana Raih Deretan Penghargaan Bergengsi

Di sisi lain, Qalibaf menyatakan bahwa langkah selanjutnya kini berada di tangan pemerintah Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keputusan untuk membangun kembali kepercayaan sepenuhnya bergantung pada sikap Washington.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif melihat situasi pasca-perundingan secara lebih positif. Ia menilai tidak ada atmosfer negatif yang muncul selama proses dialog berlangsung. “Saya tidak ingin berspekulasi, tetapi ada peluang,” katanya saat dimintai tanggapan terkait kemungkinan kelanjutan negosiasi.

Ia juga mengungkapkan bahwa berbagai inisiatif tengah disiapkan guna membuka jalan bagi pertemuan lanjutan antara kedua pihak. “Lebih banyak inisiatif sedang dilakukan mengenai kemungkinan pembicaraan di masa depan,” ujarnya menambahkan.

Sejumlah laporan media Amerika Serikat menyebutkan bahwa delegasi Washington menetapkan sejumlah syarat yang dianggap tidak bisa ditawar.

Di antaranya adalah penghentian total pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir utama Iran, pengembalian uranium yang telah diperkaya, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, serta pembukaan kembali akses Selat Hormuz.

Baca Juga: Bahlil Dampingi Prabowo ke Rusia, Kerja Sama Energi Jadi Agenda Utama

Selain isu nuklir, pembahasan juga mencakup kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran. Termasuk di dalamnya wacana pembebasan aset-aset milik Teheran yang selama ini dibekukan oleh Amerika Serikat.

Editor : Bayu Shaputra
#perundingan Islamabad #as #iran #pakistan