Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Hizbullah Minta Lebanon Hentikan Rencana Perundingan dengan Israel

Bayu Shaputra • Selasa, 14 April 2026 | 11:40 WIB
Kelompok Hizbullah di Lebanon.
Kelompok Hizbullah di Lebanon.

 

RADARSITUBONDO.ID - Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menyerukan kepada pemerintah Lebanon untuk membatalkan rencana pertemuan dengan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Washington, Amerika Serikat, pada Selasa (14/4/2026).

Seruan tersebut disampaikan dalam pidato yang disiarkan melalui televisi, di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan.

Dalam pernyataannya, Qassem kembali menegaskan sikap tegas kelompoknya yang menolak segala bentuk negosiasi langsung dengan Israel. Ia menyampaikan, "Kami menolak negosiasi dengan entitas Israel yang merampas... Kami menyerukan sikap bersejarah dan heroik dengan membatalkan pertemuan negosiasi ini." 

Baca Juga: Usai Dari Moskow, Prabowo Mendarat di Paris dan Dijadwalkan Bertemu Presiden Macron

Pemerintah Lebanon sebelumnya menyatakan keinginan untuk memprioritaskan tercapainya gencatan senjata dalam konflik yang berlangsung antara Israel dan Hizbullah. Namun, pendekatan tersebut tidak sejalan dengan sikap Israel.

Pemerintah Israel justru menolak opsi gencatan senjata sebagai langkah awal dan memilih untuk mendorong pembicaraan damai formal dengan Lebanon, yang secara teknis masih berada dalam kondisi perang selama puluhan tahun.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa negaranya menginginkan hasil yang lebih konkret dari proses tersebut.

Ia mengatakan, "Kami menginginkan pelucutan senjata Hizbullah dan kami menginginkan perjanjian damai yang nyata yang akan bertahan selama beberapa generasi." 

Baca Juga: Upaya Damai Terus Berlanjut, Peluang Negosiasi AS-Iran Masih Terbuka

Menanggapi hal itu, Qassem menilai rencana negosiasi tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan tidak akan menghasilkan solusi berarti tanpa adanya kesepakatan nasional di Lebanon. Ia menegaskan bahwa keputusan strategis seperti ini harus melibatkan konsensus luas, bukan hanya kebijakan pemerintah semata.

Di dalam negeri Lebanon, penolakan terhadap rencana perundingan juga muncul dari kalangan pendukung Hizbullah. Pada Jumat (10/4) dan Sabtu sebelumnya, ratusan massa turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan mereka.

Dalam aksi tersebut, mereka bahkan melontarkan tuduhan terhadap Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, dengan menyebutnya sebagai "zionis".

Konflik yang terus berlangsung telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar. Serangan Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Lebanon serta memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi sejak Hizbullah membawa negara tersebut ke dalam konflik regional pada 2 Maret lalu.

Dalam pidatonya, Qassem kembali menegaskan komitmen kelompoknya untuk terus melawan. Ia menyatakan, "Kami tidak akan menyerah, kami akan tetap berada di medan hingga napas terakhir kami." Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan militer yang terus meningkat dari pasukan Israel di wilayah selatan Lebanon.

Baca Juga: Usia 58 Tahun, Pengacara Senior Ini Kejar Gelar Profesor! Kisah Supriyono Bikin Salut

Militer Israel menyatakan bahwa pasukannya telah berhasil mengepung Kota Bint Jbeil, salah satu wilayah strategis di selatan Lebanon. Di sisi lain, Hizbullah mengklaim masih terus melakukan serangan terhadap pasukan Israel di area tersebut, menandakan bahwa pertempuran masih berlangsung intens.

Qassem juga memperingatkan bahwa wilayah utara Israel tidak akan sepenuhnya aman, meskipun pasukan Israel memperluas operasi militernya ke berbagai wilayah di Lebanon. Ia menilai eskalasi ini justru akan memperpanjang konflik dan meningkatkan ketidakstabilan di kawasan.

Baca Juga: Hizbullah Harap Rusia Jadi Kunci Perdamaian Timur Tengah

Selain itu, Qassem menuding pemerintah Lebanon telah mengambil langkah yang merugikan kelompoknya dengan menyatakan aktivitas militer Hizbullah sebagai ilegal sejak awal konflik. Ia juga menyinggung peran Amerika Serikat dan Israel dalam mendorong penguatan militer Lebanon dengan tujuan melemahkan Hizbullah.

"Israel dan AS dengan jelas mengatakan mereka ingin memperkuat tentara Lebanon untuk melucuti dan memerangi Hizbullah... tetapi tentara (Lebanon) tidak dapat melakukan itu," imbuhnya.

Editor : Bayu Shaputra
#Naim Qassem #Israel #lebanon #hizbullah