Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

China Kecam Blokade AS di Selat Hormuz, Dinilai Perparah Ketegangan Global

Bayu Shaputra • Rabu, 15 April 2026 | 16:46 WIB
Bendera AS dan China. (Jawapos)
Bendera AS dan China. (Jawapos)

 

RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah China melontarkan kritik keras terhadap langkah Amerika Serikat yang melakukan blokade di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut kini menjadi pusat perhatian global karena dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia.

Pemerintah China menilai tindakan Washington sebagai langkah yang berisiko tinggi dan tidak bertanggung jawab. Blokade terhadap kapal-kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran dinilai dapat memperburuk situasi yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi rapuh.

Melalui pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri China mengingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi merusak upaya gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Kondisi ini dikhawatirkan memicu eskalasi konflik baru di kawasan yang selama ini menjadi titik panas geopolitik global.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Hari Ini, BMKG Ingatkan Hujan Lebat hingga Petir di Sejumlah Wilayah

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa solusi utama untuk meredakan ketegangan hanya dapat dicapai melalui penghentian konflik secara menyeluruh. Ia menekankan pentingnya gencatan senjata total sebagai fondasi untuk menciptakan stabilitas jangka panjang.

"China percaya bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata komprehensif dan mengakhiri perang, kita dapat secara fundamental menciptakan kondisi untuk meredakan situasi di selat," katanya dalam sebuah pernyataan.

Selain itu, pihak China juga membantah keras berbagai laporan yang menyebut keterlibatan mereka dalam memasok persenjataan kepada Iran. Tuduhan tersebut disebut sebagai informasi yang tidak berdasar dan tidak mencerminkan fakta di lapangan.

Baca Juga: China Bantah Pasok Senjata ke Iran, Respons Ancaman Tarif Donald Trump

Sebagai negara dengan hubungan ekonomi yang erat dengan Iran, China memiliki kepentingan besar terhadap kelancaran jalur distribusi energi di Selat Hormuz.

Negara tersebut merupakan salah satu pembeli utama minyak mentah Iran, sehingga gangguan pada jalur ini berpotensi langsung memengaruhi stabilitas ekonomi domestik mereka.

Blokade yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat diketahui mulai diberlakukan sejak awal pekan ini. Kapal-kapal yang hendak melintasi jalur tersebut, baik menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran, dicegah sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran agar membuka kembali akses pelayaran secara luas.

Langkah ini menandai peningkatan signifikan dalam konflik yang sebelumnya sempat mereda setelah adanya kesepakatan jeda permusuhan pada 7 April. Namun, upaya diplomasi yang dilakukan dalam pertemuan di Islamabad dilaporkan tidak membuahkan hasil, sehingga situasi kembali memanas.

Di tengah ketegangan tersebut, pasar energi global menunjukkan dinamika berbeda. Harga minyak dunia justru mengalami penurunan, seiring munculnya harapan terhadap kemungkinan solusi diplomatik dalam konflik yang telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir.

Baca Juga: Dana Desa Dipangkas Drastis Demi Kopdes, Tersisa Rp373 Juta! Kades Keluhkan Pembangunan Terancam Mandek

Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional tercatat mengalami penurunan sekitar satu persen pada awal perdagangan, berada di kisaran 98 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat untuk pengiriman Mei turun lebih dalam hingga mencapai sekitar 96 dolar AS per barel.

Pergerakan harga ini mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan geopolitik yang masih fluktuatif. Meski ketegangan meningkat, pelaku pasar tetap mencermati peluang penyelesaian konflik yang dapat menstabilkan kembali pasokan energi global.

Editor : Bayu Shaputra
#blokade kapal #iran #Selat Hormuz #china #Amerika Serikat