RADARSITUBONDO.ID - Kabinet keamanan yang dipimpin Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar pertemuan pada Rabu malam (15/4/2026) untuk membahas peluang penghentian sementara pertempuran di Lebanon.
Agenda tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat serta dinamika konflik kawasan yang semakin kompleks.
Sinyal kemungkinan gencatan senjata mulai menguat. Seorang sumber politik senior Israel menyebut opsi penghentian tembakan kian realistis dalam waktu dekat.
“Dalam beberapa hari, kami mungkin tidak punya pilihan selain sepenuhnya menghentikan tembakan di Lebanon,” ujarnya, sebagaimana dikutip media lokal.
Baca Juga: Garuda Muda Tampil Agresif, Kurniawan Ungkap Pesan Penting John Herdman
Dorongan dari Washington disebut menjadi salah satu faktor utama. Pemerintah AS mendorong Israel untuk menyepakati gencatan senjata selama satu pekan dalam konflik melawan Hizbullah yang didukung Iran.
Langkah ini diharapkan membuka ruang negosiasi antara Israel dan Lebanon, sekaligus mendukung upaya diplomasi yang lebih luas di kawasan.
Namun, pihak AS menegaskan tidak memberikan tekanan langsung. Seorang pejabat senior menyatakan penghentian konflik di Lebanon tidak menjadi bagian dari negosiasi dengan Iran. Meski demikian, Washington menyambut positif setiap peluang meredanya permusuhan sebagai bagian dari stabilitas regional.
Baca Juga: UI Nonaktifkan 16 Mahasiswa FH Terkait Dugaan Pelecehan Seksual di Grup Chat
Pertemuan kabinet keamanan Israel berakhir tanpa keputusan final. Di lapangan, konflik tetap berlangsung. Militer Israel melaporkan lima tentaranya terluka akibat serangan roket Hizbullah di Lebanon selatan, dengan satu di antaranya mengalami luka serius.
Kepala Staf militer Israel Eyal Zamir dalam kunjungannya ke wilayah selatan Lebanon menyatakan telah menyetujui rencana operasi baru. Ia juga menetapkan area hingga Sungai Litani sebagai zona operasi militer intensif untuk menekan kekuatan Hizbullah.
Di sisi lain, jalur diplomasi terus berjalan. Sumber dari Hizbullah dan pemerintah Lebanon menyebut negosiasi masih berlangsung, termasuk setelah pertemuan tingkat tinggi Israel-Lebanon di Washington yang disebut sebagai yang pertama dalam skala tersebut.
Utusan khusus AS Steve Witkoff dilaporkan mengusulkan gencatan senjata sementara sebagai langkah awal menuju kesepakatan permanen. Usulan itu sebelumnya ditolak Israel, namun kini kembali dipertimbangkan seiring meningkatnya tekanan internasional.
Perkembangan ini juga berkaitan dengan negosiasi terpisah antara AS dan Iran untuk meredakan konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Gencatan senjata dua pekan dalam konflik tersebut dijadwalkan berakhir pada 22 April.
Baca Juga: Kurniawan Waspadai Malaysia U-17, Garuda Muda Bidik Tiket Semifinal
Iran menegaskan bahwa Lebanon harus masuk dalam setiap kesepakatan regional. Namun, Washington menolak mengaitkan kedua jalur diplomasi tersebut secara langsung.
Di tengah proses tersebut, pemerintah Lebanon terus menyerukan penghentian konflik. Sementara Israel tetap berkomitmen melanjutkan operasi militernya untuk melemahkan Hizbullah, meskipun intensitas serangan dilaporkan menurun dalam beberapa hari terakhir.
Seorang pejabat Israel menegaskan belum ada kesepakatan yang berlaku. “Tidak ada gencatan senjata di Lebanon. Kepentingan bersama Israel dan Lebanon adalah membubarkan Hizbullah,” ujarnya.
Baca Juga: Gagal Sepakat, AS-Iran Berpotensi Lanjutkan Negosiasi
Sementara itu, pejabat Hizbullah Ibrahim al-Moussawi menyebut upaya diplomatik yang melibatkan Iran dan negara-negara kawasan berpotensi menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat.
Meski demikian, kondisi di lapangan masih menunjukkan eskalasi yang belum sepenuhnya mereda.
Editor : Bayu Shaputra