RADARSITUBONDO.ID - Upaya Lebanon untuk mewujudkan gencatan senjata permanen dengan Israel terus digencarkan melalui jalur diplomasi. Pemerintah Beirut menilai langkah ini sebagai kunci utama untuk mengembalikan stabilitas nasional yang terguncang akibat konflik berkepanjangan.
Menteri Luar Negeri Lebanon, Youssef Raggi, menyampaikan bahwa negosiasi menjadi jalur strategis untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, di Beirut, Jumat (17/4).
Menurut Raggi, gencatan senjata yang bersifat permanen tidak hanya bertujuan menghentikan konflik bersenjata, tetapi juga memastikan keamanan dalam proses penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Selain itu, langkah tersebut diharapkan dapat memperluas otoritas pemerintah Lebanon di seluruh wilayah negara serta menegaskan kendali penuh negara atas seluruh persenjataan.
Baca Juga: Inter Menang Telak atas Cagliari, Unggul 15 Poin dari Milan
“Gencatan senjata yang langgeng juga ditujukan untuk menjamin keamanan penarikan pasukan Israel, memperluas otoritas Lebanon di seluruh wilayahnya, serta kendali eksklusif atas senjata oleh negara,” ujar Raggi.
Ia menambahkan, keberhasilan proses tersebut sangat bergantung pada dukungan internasional yang konsisten. Negara-negara Eropa disebut memiliki peran penting dalam membantu memperkuat kapasitas militer Lebanon agar mampu menjaga keamanan dan stabilitas di dalam negeri.
Dalam pertemuan yang sama, Paulo Rangel menegaskan bahwa Portugal memberikan dukungan penuh terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon. Ia juga menyambut baik langkah gencatan senjata serta jalur negosiasi yang tengah ditempuh oleh pemerintah Beirut.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Tumbang dari Madura United, Rivera Ungkap Suasana Ruang Ganti
Rangel menilai, momentum ini membuka peluang bagi tercapainya solusi komprehensif yang tidak hanya menghentikan konflik, tetapi juga menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan.
“Proses tersebut merupakan kesempatan untuk mencapai solusi komprehensif dan berkelanjutan guna meningkatkan stabilitas dan mengakhiri konflik,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan adanya gencatan senjata sementara selama 10 hari antara Lebanon dan Israel pada Kamis (16/4). Kesepakatan ini dipandang sebagai langkah awal menuju upaya damai yang lebih luas.
Konflik antara Lebanon dan Israel telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar. Berdasarkan data resmi pemerintah, lebih dari 2.196 orang dilaporkan tewas dan 7.185 lainnya mengalami luka-luka selama 45 hari serangan Israel di Lebanon. Selain itu, lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik.
Baca Juga: Jairo da Silva Dilarikan Keluar Lapangan Usai Terkena Sepakan di Area Wajah
Ketegangan ini berakar dari perang yang dilancarkan Israel terhadap Lebanon sejak Oktober 2023. Meski sempat diumumkan gencatan senjata pada November tahun berikutnya, pelanggaran terus terjadi secara berulang. Situasi semakin memburuk ketika serangan diperluas pada 2 Maret.
Tidak hanya melakukan serangan militer, Israel juga dilaporkan masih menduduki sebagian wilayah di Lebanon selatan. Kondisi ini semakin memperumit proses perdamaian dan menambah urgensi bagi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan yang benar-benar mengikat.
Editor : Bayu Shaputra