RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meski Presiden Donald Trump telah memperpanjang masa gencatan senjata secara sepihak.
Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk meredam konflik yang kian membebani secara politik dan ekonomi, sekaligus membuka peluang keluar dari situasi perang yang semakin kompleks.
Namun, respons dari Teheran justru memperlihatkan sikap keras yang menandakan jalan menuju perdamaian masih panjang.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa blokade angkatan laut yang diberlakukan Washington tetap menjadi penghalang utama bagi setiap peluang kesepakatan.
Bagi Teheran, penghentian blokade merupakan syarat mutlak sebelum pembicaraan damai bisa dipertimbangkan.
Dalam situasi ini, perpanjangan gencatan senjata oleh Trump tidak cukup untuk mengubah posisi Iran, bahkan cenderung dipandang dengan penuh kecurigaan.
Baca Juga: Uzbekistan Lolos Perdana ke Piala Dunia 2026, Ini Perjalanan dan Pergantian Pelatihnya
Upaya diplomasi Amerika Serikat sebenarnya terus berjalan. Trump menaruh harapan pada putaran lanjutan perundingan yang rencananya digelar di Pakistan dengan mengutus Wakil Presiden JD Vance.
Namun, harapan tersebut pupus setelah Iran secara tegas menolak hadir dalam negosiasi lanjutan. Penolakan ini mempertegas sikap Teheran yang tidak ingin memberikan keuntungan politik bagi Washington di tengah konflik yang masih berlangsung.
Keputusan memperpanjang gencatan senjata disebut berangkat dari asumsi bahwa kepemimpinan Iran sedang menghadapi perpecahan internal dan membutuhkan waktu untuk merumuskan langkah berikutnya.
Akan tetapi, sejumlah analis melihat kebijakan ini lebih sebagai langkah defensif Trump untuk mencegah situasi semakin memburuk.
"Dia sebenarnya bisa saja semakin nekat dan terlibat dalam aksi militer yang lebih gegabah. Tetapi sejauh ini dia telah berhenti menggali lubang yang lebih dalam untuk dirinya sendiri," kata Alex Vatanka, seorang peneliti senior di Middle East Institute yang mempelajari Iran.
Baca Juga: Anggaran Brantas Plus Nyaris Habis! DPRD Situbondo Desak Penggunaan Lebih Selektif
Di dalam negeri, konflik ini telah menjadi beban politik serius bagi Trump. Janjinya untuk menghindari intervensi militer kini berbalik menjadi tekanan, bahkan dari kalangan pendukung Partai Republik sendiri.
Kondisi semakin rumit ketika Iran merespons serangan Amerika dengan memperketat kendali di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.
Dampaknya terasa langsung pada lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat, terutama menjelang pemilihan kongres.
Pandangan serupa disampaikan Danny Citrinowicz, peneliti dari Institut Studi Keamanan Nasional Universitas Tel Aviv dan Atlantic Council. Ia menilai Iran tidak berada dalam posisi lemah dan tidak akan menyerah begitu saja.
"Trump tidak menginginkan eskalasi. Saya tidak mengatakan tidak akan ada eskalasi, tetapi dia mencoba untuk benar-benar menghabiskan semua opsi politik yang ada," ujarnya.
Ia juga menambahkan, "Saya pikir Trump sudah muak dengan perang ini dan lebih dari itu, dia mengerti, terlepas dari apa yang dia katakan, bahwa harga yang harus dibayar hanya akan semakin mahal. Harganya tidak akan turun."
Baca Juga: Dramatis! Makam Nenek Dibongkar Demi Bukti Tanah, Tangis Keluarga Pecah Saat Penggusuran
Meski demikian, kecurigaan Iran terhadap langkah Washington tetap tinggi. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa Amerika Serikat kerap melancarkan serangan saat proses negosiasi berlangsung, sehingga kepercayaan sulit dibangun.
Situasi ini membuat setiap kebijakan, termasuk perpanjangan gencatan senjata, dipandang dengan skeptis oleh Teheran.
Kedua pihak juga menghadapi tekanan citra di dalam negeri masing-masing. Baik Trump maupun para pemimpin Iran sama-sama enggan terlihat mundur dari tuntutan mereka.
Deklarasi blokade angkatan laut di tengah gencatan senjata menjadi langkah yang justru memperkeruh keadaan, karena memaksa Iran untuk tetap menunjukkan perlawanan.
Sebagai opsi kompromi, muncul gagasan agar Amerika Serikat mempertahankan blokade tetapi tidak menegakkannya secara ketat.
Menurut Vatanka, pendekatan ini bisa membuka ruang bagi kedua pihak untuk mengklaim kemenangan tanpa harus benar-benar mengubah posisi secara drastis.
Baca Juga: Keren! Smart Spensasi SMPN 1 Situbondo, Aplikasi Canggih Pantau Siswa Real Time Tanpa Ganggu Privasi
"Pihak Iran akan tahu jika aturan itu tidak ditegakkan karena itu mudah diukur," jelasnya.
Ia menambahkan, "Iran bisa saja menyebutnya sebagai kemenangan, tetapi jika mereka bersikeras untuk membuka diri sepenuhnya, itu menunjukkan kepada saya bahwa mereka lebih tertarik pada citra publik daripada benar-benar mencapai kesepakatan. Itu akan menjadi kesalahan di pihak mereka."
Editor : Bayu Shaputra