RADARSITUBONDO.ID - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 masih terus berlanjut tanpa kepastian waktu berakhir. M
emasuki hampir dua bulan sejak pecahnya perang, arah kebijakan terkait kelanjutan operasi militer sepenuhnya berada di tangan Presiden Donald Trump.
Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt dalam konferensi pers di Washington pada Rabu (22/4/2026).
Ia menegaskan bahwa keputusan strategis, termasuk kapan perang dihentikan atau dilanjutkan, merupakan otoritas penuh presiden.
“(Hal itu bergantung pada presiden, yang akan mengambil keputusan) ketika ia merasa itu demi kepentingan terbaik Amerika Serikat dan rakyat Amerika,” ujarnya.
Baca Juga: Uzbekistan Lolos Perdana ke Piala Dunia 2026, Ini Perjalanan dan Pergantian Pelatihnya
Leavitt juga meluruskan spekulasi yang berkembang terkait tenggat waktu perpanjangan gencatan senjata.
Ia membantah adanya batas waktu tertentu sebagaimana dilaporkan sejumlah pihak. Menurutnya, seluruh kendali tetap berada di tangan Trump. “Kendali sepenuhnya ada di tangan Presiden Trump saat ini,” tegasnya.
Sebelumnya, Trump telah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran tanpa menetapkan batas waktu yang jelas. Kebijakan tersebut akan terus berlaku hingga Iran mengajukan proposal resmi dan proses negosiasi mencapai titik penyelesaian.
Dalam pernyataan resminya, Trump menegaskan, “Serta akan memperpanjang gencatan senjata hingga proposal mereka diajukan dan pembicaraan diselesaikan, bagaimanapun caranya.”
Langkah ini tidak lepas dari peran mediasi yang dilakukan pihak Pakistan. Trump mengungkapkan bahwa permintaan penundaan serangan datang dari Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif.
“Kami diminta untuk menunda serangan terhadap Iran hingga para pemimpin mereka dapat mengajukan proposal terpadu,” ujarnya.
Meski demikian, Trump memastikan bahwa kesiapan militer tetap menjadi prioritas. Ia menegaskan bahwa operasi blokade tetap berjalan dan pasukan berada dalam kondisi siaga penuh.
“Saya telah memerintahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan tetap siap dalam segala kondisi,” lanjutnya.
Baca Juga: Anggaran Brantas Plus Nyaris Habis! DPRD Situbondo Desak Penggunaan Lebih Selektif
Dari sisi tekanan ekonomi, Gedung Putih menilai kebijakan blokade yang diberlakukan sejak 13 April 2026 telah memberikan dampak signifikan terhadap Iran. Leavitt menyebut bahwa tekanan tersebut membuat kondisi ekonomi Iran semakin terdesak.
“Kami benar-benar mencekik perekonomian mereka melalui blokade ini. Mereka kehilangan sekitar 500 juta dollar AS per hari,” katanya.
Dampak tersebut terlihat dari terganggunya distribusi minyak Iran, khususnya di Pulau Kharg yang menjadi salah satu pusat ekspor utama.
Penumpukan minyak yang tidak dapat disalurkan memperlihatkan tekanan yang semakin besar terhadap sektor energi Iran. “Mereka bahkan tidak bisa membayar rakyat mereka sendiri akibat tekanan ekonomi ini,” ujarnya.
Baca Juga: Dramatis! Makam Nenek Dibongkar Demi Bukti Tanah, Tangis Keluarga Pecah Saat Penggusuran
Di sisi lain, pengawasan militer di jalur laut terus diperketat. CENTCOM mengklaim telah menginstruksikan puluhan kapal untuk berbalik arah selama blokade berlangsung. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut sedikitnya 29 kapal telah diarahkan kembali ke pelabuhan.
CENTCOM juga membantah laporan yang menyebut adanya kapal yang berhasil menembus blokade. Mereka menegaskan bahwa kapal seperti M/V Hero II dan M/V Hedy telah dicegat dan kini berada di pelabuhan Iran.
Sementara itu, kapal Dorena dilaporkan berada dalam pengawalan kapal perang AS di kawasan Samudra Hindia setelah mencoba melanggar blokade.
“Militer Amerika Serikat memiliki jangkauan global. Pasukan kami saat ini menegakkan blokade di seluruh kawasan Timur Tengah dan sekitarnya,” tegas CENTCOM.
Editor : Bayu Shaputra