Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Trump Perintahkan Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz, Ketegangan Memuncak

Bayu Shaputra • Jumat, 24 April 2026 | 10:20 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump usulkan dana kesehatan dibagikan ke masyarakat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

 

RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Donald Trump mengeluarkan perintah tegas kepada militer Amerika Serikat untuk menindak kapal-kapal kecil Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz.

Instruksi tersebut diumumkan pada Kamis (23/4/2026), menyusul aksi terbaru Iran yang kembali menunjukkan kemampuannya mengganggu jalur pelayaran vital dunia.

Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menegaskan sikap tanpa kompromi terhadap ancaman tersebut.

“Saya telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak dan membunuh kapal apa pun, meskipun kecil yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa kapal penyapu ranjau milik AS tengah beroperasi membersihkan kawasan tersebut.

Baca Juga: Gagal Lolos, Italia Diusulkan Tampil di Piala Dunia 2026 Lewat Jalur Khusus

Presiden AS itu memastikan operasi militer akan ditingkatkan secara signifikan.

“Saya dengan ini memerintahkan aktivitas itu untuk terus berlanjut, tetapi dengan tingkat tiga kali lipat!” katanya. 

Pernyataan tersebut muncul tidak lama setelah militer AS menyita kapal tanker lain yang diduga terkait aktivitas penyelundupan minyak Iran.

Baca Juga: KPK Jadwalkan Pemeriksaan Khalid Basalamah dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Langkah tersebut memperdalam ketegangan antara Washington dan Teheran, terutama di jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam dunia dalam kondisi normal.

Rekaman yang dirilis Departemen Pertahanan AS memperlihatkan pasukan mereka berada di atas kapal tanker berbendera Guinea, Majestic X, yang diamankan di Samudra Hindia.

Kapal itu sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada 2024 karena diduga terlibat dalam pengiriman minyak mentah Iran secara ilegal.

Baca Juga: Skandal Dana Tol Prosiwangi! Oknum Perangkat Desa Jetis Diduga Tahan Rp300 Juta Hak Warga

Di sisi lain, respons keras juga ditunjukkan oleh Iran. Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan menyerang tiga kapal kargo di kawasan tersebut dan menyita dua di antaranya.

Kepala peradilan Iran, Gholam Hossein Mohseni Ejei, menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut dianggap sebagai pelanggar dan akan diproses secara hukum.

Ia menambahkan, “Unjuk kekuatan angkatan bersenjata Iran di Selat Hormuz adalah sumber kebanggaan,” serta mengeklaim bahwa Amerika “tidak memiliki keberanian” untuk mendekati wilayah tersebut.

Baca Juga: Skandal Dana Tol Prosiwangi! Oknum Perangkat Desa Jetis Diduga Tahan Rp300 Juta Hak Warga

Upaya diplomasi antara kedua negara hingga kini masih menemui hambatan serius. Rencana pertemuan yang sempat dijadwalkan di Islamabad belum terealisasi.

Iran menolak hadir sebelum blokade pelabuhan dicabut, sementara pihak Gedung Putih menuntut agar Teheran membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas internasional.

Seruan damai juga datang dari Paus Leo XIV yang meminta kedua pihak kembali ke meja perundingan guna mengakhiri konflik yang terus memanas.

Baca Juga: Ojol Dihajar Oknum Polisi Hingga Berdarah! Puluhan Driver Geruduk Mapolres Situbondo, Kasus Berakhir Damai

Trump turut melontarkan klaim bahwa kepemimpinan di Iran tengah mengalami perpecahan internal.

“Iran sedang sangat kesulitan menentukan siapa pemimpinnya! Mereka bahkan tidak tahu!” ujarnya.

Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Presiden Iran dan ketua parlemen yang menegaskan soliditas pemerintahan.

“Kami semua adalah orang Iran dan revolusioner,” tegas mereka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran bahkan menyebut pernyataan Trump sebagai bentuk pengalihan isu.

Baca Juga: PGRI Situbondo Gaspol Tingkatkan Kualitas Guru! Dorong Profesionalisme dan Adaptasi di Era Digital

Di tengah situasi yang belum mereda, Trump menegaskan dirinya tidak terburu-buru mengakhiri konflik.

“Saya tidak ingin terburu-buru,” katanya.

Ia mengklaim bahwa Amerika Serikat telah memberikan tekanan besar terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir.

“Jika mereka tidak ingin membuat kesepakatan, maka saya akan menyelesaikannya secara militer,” tegasnya, sambil memastikan bahwa opsi senjata nuklir tidak akan digunakan.

Dalam perkembangan lain, Trump juga mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selama tiga pekan.

Keputusan itu diambil setelah pertemuan antara perwakilan Israel dan Lebanon di Gedung Putih.

“Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantunya melindungi diri dari Hizbullah,” ujarnya.

Baca Juga: Serapan DBHCHT Cuma 71%! Kinerja Satpol PP Situbondo Disorot, Anggaran Rp4 Miliar Dipertanyakan

Meski demikian, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil. Militer Israel melaporkan serangan terhadap fasilitas peluncur rudal di Lebanon, sementara Hizbullah mengaku telah menembakkan roket ke wilayah Israel sebagai respons. Kedua pihak saling menuding melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari, lebih dari 30 kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di kawasan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman.

Ancaman keamanan tersebut, ditambah dengan lonjakan premi asuransi, membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menghindari jalur tersebut.

Perwakilan organisasi pelayaran internasional BIMCO, Jakob Larsen, menekankan pentingnya stabilitas keamanan agar aktivitas pelayaran dapat kembali normal. Ia menyebut ancaman ranjau sebagai salah satu kekhawatiran utama.

Menurutnya, perusahaan pelayaran membutuhkan jaminan keamanan nyata serta gencatan senjata yang benar-benar dijalankan oleh kedua pihak.

Editor : Bayu Shaputra
#iran #Selat Hormuz #Donald Trump