RADARSITUBONDO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu ke depan.
Keputusan itu diambil setelah pertemuan kedua antara duta besar kedua negara yang difasilitasi di Gedung Putih dalam kurun satu pekan terakhir.
Dalam pernyataan di Oval Office, Trump menggambarkan jalannya pembicaraan sebagai sesuatu yang “sangat baik”. Meski demikian, ia tidak menutup mata terhadap kompleksitas situasi di lapangan.
Salah satu faktor utama yang membuat proses ini berjalan tidak mudah adalah sikap Hizbullah yang menolak terlibat dalam negosiasi tersebut.
Kelompok bersenjata yang memiliki pengaruh besar di Lebanon itu menegaskan tidak akan terikat pada hasil perundingan.
Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta Jadwalkan Pemadaman Lampu Serentak Tiga Kali Sepanjang 2026
Gencatan senjata sebelumnya hanya berlaku selama 10 hari dan dijadwalkan berakhir dalam waktu dekat. Namun, kesepakatan baru ini diharapkan mampu meredam eskalasi konflik yang masih kerap terjadi.
Sejak kesepakatan awal diberlakukan, pelanggaran tetap dilaporkan dari kedua belah pihak, menunjukkan rapuhnya situasi keamanan di perbatasan.
Langkah diplomatik ini dinilai penting karena menjadi salah satu bentuk kontak langsung antara Israel dan Lebanon setelah puluhan tahun. Secara resmi, kedua negara masih berada dalam kondisi perang sejak berdirinya Israel pada 1948.
Upaya membuka jalur komunikasi langsung dianggap sebagai sinyal awal menuju kemungkinan normalisasi hubungan, meski jalan ke arah tersebut masih panjang.
Melalui media sosial, Trump juga menegaskan komitmen Amerika Serikat untuk membantu Lebanon memperkuat pertahanannya dari ancaman Hizbullah.
Ia turut mengungkap rencana pertemuan lanjutan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam beberapa pekan mendatang di Washington.
Dalam kesempatan yang sama, Trump menegaskan bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri jika menghadapi serangan.
Pernyataan itu disampaikan di hadapan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Dukungan dari Washington dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Baca Juga: Manchester City Gusur Arsenal dari Puncak, Persaingan Juara Premier League Memanas
Dari pihak Israel, Duta Besar untuk AS Yechiel Leiter menyampaikan optimisme bahwa di bawah kepemimpinan Trump, peluang tercapainya perdamaian formal semakin terbuka.
Sementara itu, Duta Besar Lebanon Nada Hamadeh Moawad memberikan apresiasi terhadap peran Amerika Serikat dalam mendukung stabilitas negaranya.
Namun di dalam negeri Lebanon, tekanan terhadap pemerintah tetap tinggi. Presiden Joseph Aoun mendorong negosiasi yang lebih tegas dan menyeluruh.
Ia menuntut penghentian total serangan Israel, penarikan pasukan dari wilayah Lebanon, serta dimulainya proses rekonstruksi di daerah terdampak konflik.
Baca Juga: Dampak AI Picu Krisis CPU, Harga Laptop dan PC Diprediksi Naik 30 Persen
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyebut bahwa hambatan utama menuju normalisasi adalah keberadaan Hizbullah. Ia bahkan melontarkan kritik keras dengan menyebut Lebanon sebagai “negara gagal”, meskipun mengklaim bahwa perbedaan antara kedua negara tidak terlalu besar selain persoalan perbatasan.
Konflik terbaru ini dipicu oleh serangan roket yang diluncurkan Hizbullah ke wilayah Israel utara, tidak lama setelah operasi militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Israel kemudian merespons dengan serangan udara besar-besaran dan invasi darat ke Lebanon selatan.
Hingga kini, militer Israel masih menguasai zona penyangga sejauh 10 kilometer di wilayah tersebut dengan alasan keamanan, khususnya untuk mencegah ancaman roket jarak pendek dan rudal anti-tank.
Meski jalur diplomasi mulai dibuka, Hizbullah tetap berada di luar proses tersebut. Pejabat senior kelompok itu, Wafiq Safa, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tunduk pada kesepakatan yang dihasilkan dari perundingan langsung antara Israel dan Lebanon.
Baca Juga: iPhone 18 Pro Dikabarkan Bawa Upgrade Besar di Kamera dan Efisiensi Daya
Di tengah upaya meredakan konflik, insiden tragis kembali terjadi. Serangan Israel pada Rabu (22/4) menewaskan jurnalis Lebanon Amal Khalil. Pemerintah Lebanon juga menuduh militer Israel menembaki ambulans yang tengah melakukan evakuasi korban.
Tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Israel, namun insiden ini memicu kemarahan publik Lebanon menjelang pembicaraan lanjutan di Washington.
Pemerintah Lebanon kini tengah menyiapkan laporan terkait dugaan kejahatan perang dan mempertimbangkan membawa kasus tersebut ke Mahkamah Pidana Internasional. Situasi ini semakin memperumit upaya diplomasi yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Trump Perintahkan Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz, Ketegangan Memuncak
Data terbaru menunjukkan dampak konflik sangat besar. Sekitar 2.300 orang dilaporkan tewas di Lebanon, termasuk perempuan dan anak-anak. Selain itu, lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat eskalasi kekerasan yang belum sepenuhnya mereda.
Editor : Bayu Shaputra