RADARSITUBONDO.ID - Iran menyodorkan sebuah kerangka kerja yang disebut dapat diterapkan kepada Pakistan untuk mengakhiri konflik secara permanen.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, setelah kunjungannya ke Islamabad pada Sabtu (25/4/2026).
Dalam pernyataannya di platform X yang dikutip Minggu (26/4/2026), Araghchi menegaskan bahwa pembahasan selama lawatan tersebut berfokus pada upaya memulihkan stabilitas kawasan serta menghentikan eskalasi konflik yang terus berlanjut.
“Kami membahas posisi Iran terkait kerangka kerja yang dapat diterapkan untuk mengakhiri perang terhadap Iran secara permanen,” katanya.
Baca Juga: Maarten Paes Clean Sheet, Ajax Tekuk NAC 2-0
Meski demikian, Araghchi tidak merinci bentuk maupun isi kerangka kerja yang dimaksud. Ia hanya menekankan bahwa pendekatan tersebut diharapkan mampu menjadi dasar solusi jangka panjang.
Kunjungan ke Pakistan disebutnya berlangsung produktif. Ia juga memberikan apresiasi terhadap peran Islamabad dalam membuka ruang dialog di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda.
Pakistan dinilai berkontribusi dalam menjembatani komunikasi guna mendorong pemulihan perdamaian di kawasan.
Baca Juga: Kondisi Terbaru Benjamin Netanyahu Usai Tumor Prostat, Klaim Telah Sembuh Total
Di sisi lain, Araghchi menyampaikan keraguannya terhadap komitmen Amerika Serikat dalam jalur diplomasi. “Kita masih harus melihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi,” ujarnya.
Sejauh ini, Pakistan memang mengambil posisi sebagai mediator antara Teheran dan Washington setelah meningkatnya ketegangan akibat eskalasi militer terbaru.
Araghchi tiba di Pakistan pada Jumat (24/4/2026) malam dan bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, di Islamabad pada Sabtu.
Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat yang sempat terhenti.
Namun dinamika berubah setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan membatalkan rencana kunjungan delegasi Washington ke Pakistan. Delegasi tersebut sebelumnya dijadwalkan diisi utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner.
Baca Juga: WhatsApp Uji Coba Layanan Berbayar WhatsApp Plus di Eropa
Trump menyampaikan keputusan itu dalam wawancara via telepon dengan Fox News. Ia menilai perjalanan tersebut tidak perlu dilakukan.
"Saya sudah memberi tahu orang-orang saya beberapa waktu lalu bahwa mereka akan segera pergi, dan saya berkata, tidak, kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam untuk pergi ke sana,” katanya.
Trump juga menyinggung tawaran dari pihak Iran terkait kesepakatan damai. Ia menilai dokumen awal yang diajukan belum memenuhi harapan Washington.
“Mereka memberi kami dokumen (penawaran) yang seharusnya lebih baik, dan yang menarik, segera setelah saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit kami mendapatkan dokumen baru yang jauh lebih baik,” ujarnya.
Baca Juga: Amerika Serikat Buka Pintu untuk Timnas Iran di Piala Dunia 2026, Berikut Syaratnya
Meski tidak merinci isi tawaran tersebut, Trump kembali menegaskan tuntutan utama Amerika Serikat agar Iran menghentikan program nuklirnya.
“Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir, sesederhana itu. ... Mereka menawarkan banyak hal, tetapi tidak cukup,” katanya.
Editor : Bayu Shaputra