Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Diplomasi Iran di Islamabad Berlanjut, Trump Pilih Negosiasi via Telepon

Bayu Shaputra • Senin, 27 April 2026 | 10:38 WIB
Presiden Donald Trump.
Presiden Donald Trump.

 

RADARSITUBONDO.ID - Upaya menghidupkan kembali perundingan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat kembali bergerak dinamis. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tercatat singgah kembali di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (26/4/2026), di tengah intensitas diplomasi yang belum menunjukkan titik temu jelas.

Kunjungan singkat tersebut terjadi saat pemerintah sipil dan militer Pakistan berupaya mempertemukan kembali kedua negara yang masih terlibat ketegangan.

Sebelumnya, Araghchi sempat meninggalkan Islamabad pada Sabtu malam, yang memicu tanda tanya terkait kelanjutan putaran kedua pembicaraan. Namun, ia kembali ke ibu kota Pakistan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Moskow pada hari yang sama.

Baca Juga: Balita Meninggal di Cianjur, BGN Tegaskan Bukan Akibat Program MBG

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menunjukkan pendekatan berbeda. Ia menilai komunikasi tidak harus dilakukan melalui pengiriman utusan resmi.

“Jika mereka mau, kita bisa bicara, tapi kami tidak mengirim orang,” ujarnya dalam wawancara. Trump juga menegaskan melalui media sosial, “Yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!!!”

Sikap tersebut muncul setelah sebelumnya Gedung Putih sempat merencanakan pengiriman utusan, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad. Namun, rencana itu dibatalkan karena dianggap belum ada perkembangan signifikan dari perundingan sebelumnya.

Baca Juga: Endrick Bersinar di Lyon, Arsenal dan Tottenham Siap Bajak dari Madrid

Meski demikian, jalur komunikasi tidak sepenuhnya terhenti. Dua pejabat Pakistan menyebut pembicaraan tidak langsung masih berlangsung, meskipun detailnya tidak diungkap ke publik.

Sebelum ke Pakistan, Araghchi juga berada di Oman, negara yang memiliki peran penting dalam sejarah mediasi konflik kawasan.

Letaknya yang strategis di sekitar Selat Hormuz menjadikan Oman kerap dilibatkan dalam diplomasi sensitif, termasuk dalam konflik terbaru ini.

Gencatan senjata yang sebelumnya disepakati pada 7 April 2026 bahkan telah diperpanjang tanpa batas waktu oleh pihak Amerika Serikat.

Kesepakatan tersebut sempat meredam pertempuran yang pecah sejak serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa.

Ketegangan masih terpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sangat vital bagi distribusi energi global. Iran dilaporkan membatasi pergerakan kapal di kawasan tersebut, sementara Amerika Serikat menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Situasi ini memperumit jalur logistik global, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat tersebut dalam kondisi normal.

Baca Juga: Maxi Araujo Masuk Radar Arsenal, Persaingan Transfer Semakin Ketat

Iran disebut berupaya mendapatkan dukungan Oman untuk menerapkan mekanisme penarikan biaya bagi kapal yang melintas. Namun hingga kini, sikap Oman terhadap usulan tersebut belum jelas.

Seorang pejabat kawasan yang terlibat dalam mediasi mengungkapkan bahwa Iran bersikeras agar blokade Amerika Serikat dihentikan sebelum dimulainya putaran baru perundingan. Perbedaan posisi ini menjadi tantangan utama bagi mediator yang dipimpin Pakistan.

Dalam perkembangan lain, Araghchi juga melakukan komunikasi melalui sambungan telepon dengan mitranya di Qatar dan Arab Saudi. Langkah ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi tetap dijaga melalui berbagai kanal, meskipun tidak dilakukan secara langsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Saddil Ramdani Comeback ke Timnas Indonesia Jelang ASEAN Championship 2026

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa pendekatan tidak langsung akan tetap menjadi pilihan utama dalam perundingan. Hal ini mencerminkan sikap hati-hati Teheran setelah pengalaman sebelumnya yang berujung pada eskalasi militer.

Trump di sisi lain mengklaim Iran telah mengajukan proposal yang disebutnya “jauh lebih baik”. Namun, ia tidak merinci isi proposal tersebut.

Ia kembali menegaskan bahwa salah satu syarat utama Amerika Serikat adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, isu yang sejak lama menjadi sumber ketegangan.

Menurut badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, Iran saat ini memiliki sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan mencapai 60 persen, mendekati ambang teknis untuk senjata.

Memasuki bulan kedua konflik, dampak ekonomi global semakin terasa. Distribusi minyak, gas alam cair, pupuk, hingga berbagai komoditas lainnya mengalami gangguan akibat ketatnya situasi di Selat Hormuz.

Ketegangan militer pun belum mereda. Komando militer gabungan Iran memperingatkan akan memberikan “respons kuat” jika Amerika Serikat melanjutkan tindakan agresif, termasuk blokade laut. Sebaliknya, Trump memerintahkan militer untuk “menembak dan menghancurkan” kapal kecil yang diduga memasang ranjau di wilayah tersebut.

Baca Juga: Industri Teknologi Bergejolak, 92.000 Karyawan Kena PHK Sejak Awal 2026

Sejak konflik pecah, jumlah korban terus bertambah. Ribuan orang dilaporkan tewas di Iran dan Lebanon, sementara korban juga terjadi di Israel dan sejumlah negara Teluk.

Korban mencakup warga sipil hingga personel militer dari berbagai pihak, termasuk pasukan penjaga perdamaian PBB.

Di tengah situasi tersebut, analis politik independen Pakistan, Syed Mohammad Ali, menilai bahwa tertundanya perundingan tidak serta-merta menunjukkan kemunduran. Ia melihat masih adanya ruang optimisme karena komunikasi tetap berjalan.

“Hal yang positif adalah gencatan senjata masih bertahan, dan kedua pihak sama-sama ingin mengakhiri konflik tanpa menimbulkan dampak buruk di dalam negeri,” ujarnya.

Editor : Bayu Shaputra
#negosiasi #as #iran #pakistan #Donald Trump