RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih jauh dari kata usai. Pemerintahan Ali Khamenei tetap bertahan di tengah tekanan militer, sementara kelompok Hizbullah dan Hamas belum sepenuhnya berhasil dilumpuhkan.
Di saat yang sama, arah kepentingan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan agenda pemerintah Israel.
Situasi tersebut membuat strategi perang yang dirancang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak berjalan sesuai harapan awal.
Kondisi ini berpotensi menjadi tekanan politik serius bagi Netanyahu menjelang pemilu yang dijadwalkan digelar pada akhir tahun. Sejumlah hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinannya selama periode konflik berkepanjangan.
Baca Juga: Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara Usai Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL
Sejak dimulainya operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, Netanyahu menegaskan bahwa target utama adalah melemahkan kekuatan militer Iran, menghancurkan program nuklir dan rudal balistiknya, serta membuka jalan bagi perubahan rezim.
Meski sejumlah fasilitas militer Iran mengalami kerusakan signifikan, negara tersebut masih mempertahankan kendali strategis atas jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Di sisi lain, operasi militer Israel melawan Hizbullah di Lebanon berakhir lebih cepat dari rencana semula.
Netanyahu mengungkapkan bahwa keputusan gencatan senjata diambil atas permintaan Trump, meskipun ia menegaskan bahwa Israel “belum selesai” menghadapi kelompok tersebut. Hingga kini, pasukan Israel masih mempertahankan kehadiran di wilayah selatan Lebanon hingga sekitar 10 kilometer dari garis perbatasan.
Baca Juga: Barcelona Cari Pengganti Lewandowski, Julian Alvarez Jadi Target Utama
Tekanan terhadap Netanyahu semakin meningkat seiring belum terselesaikannya konflik di Gaza. Trump disebut mendorong Israel untuk mengurangi intensitas operasi militernya di wilayah tersebut.
Lebih dari dua tahun sejak serangan Hamas pada Oktober 2023 yang memicu perang besar, kelompok tersebut memang mengalami pelemahan, tetapi belum sepenuhnya dihancurkan.
"Setelah 925 hari pertempuran sejak 7 Oktober, Israel gagal meraih kemenangan yang menentukan di semua front," tulis Yoav Limor. Ia juga menambahkan, "Di akhir perang demi perang, Israel dipandang sebagai negara yang keputusannya tidak dibuat di Yerusalem, tetapi di Washington."
Netanyahu sendiri tetap menggambarkan operasi militer terhadap Iran sebagai sebuah keberhasilan strategis. Ia menyebut langkah tersebut sebagai upaya pencegahan terhadap ancaman yang bersifat eksistensial. "Kami telah menghancurkan kemampuan serangan rezim Iran sejak dini," ujarnya.
Baca Juga: Update Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, 7 Orang Meninggal dan 81 Luka Dirawat
Namun demikian, persepsi publik di dalam negeri Israel menunjukkan arah berbeda. Kepercayaan terhadap pemerintahan Netanyahu merosot tajam pasca serangan Hamas pada 2023.
Dalam dua tahun terakhir, ia memimpin serangan balasan besar-besaran serta berhasil membebaskan puluhan sandera melalui kesepakatan gencatan senjata.
Israel juga mencatat sejumlah keberhasilan militer terhadap Iran dan Hizbullah, tetapi capaian tersebut tidak cukup mengangkat posisi politik Netanyahu.
"Orang-orang kecewa karena tujuan yang diharapkan tidak tercapai," kata Dahlia Scheindlin, analis politik di Tel Aviv.
Baca Juga: Derbi Jatim Arema FC vs Persebaya: Bernardo Tavares Waspadai Performa Singo Edan
Survei yang dilakukan Israel Democracy Institute pada awal konflik menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap Netanyahu mencapai 64 persen.
Namun, survei lanjutan setelah gencatan senjata pada 8 April memperlihatkan penilaian negatif terhadap kinerja pemerintah lebih dominan dibandingkan penilaian positif. Mayoritas responden bahkan berpendapat bahwa operasi militer melawan Hizbullah seharusnya dilanjutkan.
Setelah tercapainya gencatan senjata dengan Iran dan Hizbullah, sebagian masyarakat Israel mulai mempertanyakan kekuatan hubungan antara Netanyahu dan Trump, serta hubungan strategis antara Israel dan Amerika Serikat. Meski Trump tetap memberikan pujian terbuka terhadap Israel, keraguan publik tetap muncul.
Dalam pernyataannya, Trump menulis bahwa "terlepas dari suka atau tidaknya orang terhadap Israel, mereka telah membuktikan diri sebagai sekutu BESAR AS." Ia juga berencana menjadi tuan rumah pertemuan dengan Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih untuk membahas gencatan senjata.
Namun, kehadiran Trump dalam agenda penting di Yerusalem sempat menjadi sorotan setelah ia tidak muncul dalam acara pemberian penghargaan Israel Prize yang sebelumnya diumumkan akan diberikan kepadanya.
Baca Juga: Persija Sumbang 4 Pemain ke Timnas Indonesia, Mauricio Souza Soroti Eksel Runtukahu
Di wilayah utara Israel, khususnya di kawasan dekat perbatasan Lebanon, gencatan senjata justru memicu kekecewaan warga. Serangan roket yang berlangsung selama berminggu-minggu meninggalkan dampak besar bagi kehidupan masyarakat setempat.
"Saya tinggal 100 meter dari perbatasan," ujar Asaf Oakil dari Kiryat Shmona. "Gencatan senjata? Itu kesalahan."
Sejumlah toko masih tutup dan gelombang protes mulai muncul. Kemarahan warga sebagian besar diarahkan kepada Netanyahu. "Saya sangat berharap warga di utara akan belajar dari ini dan memilih seseorang yang bisa membantu kami, bukan yang justru menjatuhkan dan mengubur kami," kata Shosh Tsaoula.
Baca Juga: Perjalanan Kereta Jakarta-Surabaya Terganggu Akibat Insiden Kecelakaan di Bekasi Timur
Pemerintahan Netanyahu kini memasuki fase akhir masa jabatan empat tahunnya dengan kewajiban menggelar pemilu paling lambat akhir Oktober. Sejumlah tokoh oposisi mulai bersiap menghadapi kontestasi politik tersebut, termasuk Naftali Bennett dan Yair Lapid. Nama lain seperti Gadi Eisenkot juga diperkirakan akan ikut meramaikan persaingan.
Analis politik Nadav Eyal menilai Netanyahu berada dalam posisi sulit jika tidak mampu meyakinkan publik bahwa rangkaian perang yang dilakukan telah menghasilkan peningkatan keamanan jangka panjang.
"Dengan gencatan senjata yang tidak stabil dan bisa runtuh kapan saja, para pemilih tidak akan merasa puas," ujarnya.
Editor : Bayu Shaputra