RADARSITUBONDO.ID - Laporan terbaru mengenai dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan tidak puas terhadap proposal yang diajukan Teheran untuk membuka Selat Hormuz dan mengakhiri konflik yang berlangsung.
Informasi ini mencuat dari laporan media Amerika Serikat yang mengungkap adanya pembahasan intens di lingkaran pemerintahan Gedung Putih.
Dalam rapat yang berlangsung di Situation Room pada Senin waktu setempat, Trump disebut telah menerima pemaparan langsung mengenai isi proposal Iran yang disampaikan melalui mediator Pakistan.
Proposal tersebut menitikberatkan pada pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran dengan syarat utama berupa pencabutan blokade laut yang selama ini diberlakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca Juga: Prabowo Fokus Keselamatan, 1.800 Perlintasan Kereta di Jawa Akan Diperbaiki
Namun, substansi proposal itu dinilai belum menyentuh isu krusial yang selama ini menjadi fokus utama Washington, yakni program nuklir Teheran. Sejumlah pejabat dari kedua negara mengakui bahwa dokumen tersebut tidak mengatur langkah konkret terkait pengayaan uranium yang selama ini menjadi sumber ketegangan.
Iran sendiri sebelumnya telah menolak tuntutan Amerika Serikat untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium. Teheran berargumen bahwa kegiatan tersebut merupakan hak sah mereka berdasarkan hukum internasional. Selain itu, Iran juga menolak untuk menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya.
Ketidakpuasan Trump terhadap proposal tersebut tidak dijelaskan secara rinci. Meski demikian, sikap kerasnya terhadap isu nuklir Iran telah lama menjadi bagian dari kebijakan luar negeri pemerintahannya. Ia secara konsisten menuntut penghentian pengayaan uranium serta pemindahan stok bahan nuklir Iran sebagai prasyarat utama kesepakatan.
Baca Juga: Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek, 13 Kereta Jarak Jauh Batal Berangkat Hari Ini
Seorang pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya menyebut bahwa menerima proposal Iran berpotensi merusak posisi politik Trump. Ia menilai langkah tersebut dapat diartikan sebagai pengakuan atas kompromi yang melemahkan klaim keberhasilan pemerintahannya.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan melakukan negosiasi melalui media.
“Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui pers -- kami telah menjelaskan dengan jelas mengenai batasan-batasan kami dan presiden hanya akan membuat kesepakatan yang baik bagi rakyat Amerika dan dunia,” ujarnya.
Proposal Iran pertama kali terungkap ke publik setelah dilaporkan oleh media AS beberapa hari sebelumnya. Dalam laporan itu disebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menyerahkan dokumen tersebut kepada pihak Pakistan sebagai mediator.
Baca Juga: KNKT Selidiki Kecelakaan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur
Isi proposal juga mencakup usulan perpanjangan gencatan senjata dalam jangka panjang, bahkan berpotensi menjadi permanen. Namun, pembahasan terkait program nuklir baru akan dimulai setelah Selat Hormuz dibuka kembali dan blokade laut AS dihentikan.
Pendekatan bertahap ini memicu kekhawatiran di pihak AS. Skema tersebut dinilai berisiko karena dapat mengurangi daya tawar utama Washington sebelum isu nuklir diselesaikan.
Dalam perspektif strategis, blokade laut selama ini menjadi salah satu instrumen tekanan paling signifikan terhadap Iran.
Editor : Bayu Shaputra