Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Serangan Udara Beruntun Hantam UEA, Iran Bantah Keterlibatan

Bayu Shaputra • Rabu, 6 Mei 2026 | 16:33 WIB
Iran memperingati Amerika Serikat mengenai kegiatan militer di kawasan Karibia.
Iran.

 

RADARSITUBONDO.ID - Uni Emirat Arab kembali menghadapi serangan udara yang diduga melibatkan rudal dan drone pada Selasa waktu setempat. Insiden ini menjadi hari kedua berturut-turut negara Teluk tersebut mengalami serangan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Kementerian Pertahanan UEA menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil merespons cepat dengan mencegat sejumlah ancaman yang datang dari arah Iran.

Meski demikian, pihak Iran segera membantah tuduhan tersebut. Korps Garda Revolusi Islam Iran menegaskan tidak ada operasi militer yang dilakukan terhadap UEA dalam beberapa hari terakhir.

“Jika ada tindakan yang diambil, kami pasti akan mengumumkannya dengan tegas dan jelas,” demikian pernyataan resmi yang disiarkan kantor berita Fars. Pernyataan itu juga menegaskan bahwa laporan dari pihak UEA “sama sekali dibantah dan tidak memiliki kebenaran sedikit pun.”

Baca Juga: Serapan Pupuk Subsidi Baru 23 Persen, Dispertangan Ungkap Penyebabnya!

Serangan terbaru ini terjadi hanya sehari setelah insiden sebelumnya yang menyebabkan sedikitnya tiga orang terluka. Dalam kejadian sebelumnya, sebuah drone memicu kebakaran di fasilitas minyak utama di Fujairah, wilayah strategis di timur UEA.

Hingga kini, dampak penuh dari serangan terbaru masih belum sepenuhnya terungkap, sementara otoritas terus melakukan penilaian situasi.

Ketegangan yang meningkat tidak lepas dari dinamika lebih luas di kawasan, terutama terkait hubungan Iran dan Amerika Serikat. Situasi semakin memanas setelah Washington meluncurkan inisiatif baru bertajuk

“Project Freedom” yang bertujuan mengawal jalur pelayaran di Selat Hormuz. Langkah ini dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas distribusi energi global, sekaligus merespons ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur vital tersebut.

Baca Juga: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius: Kronologi Lengkap, 3 Tewas, WHO Turun Tangan

Sebelumnya, sebagai reaksi atas serangan gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, pasukan Iran disebut memperketat kontrol di Selat Hormuz.

Kapal-kapal yang melintas tanpa izin dilaporkan menghadapi ancaman atau serangan langsung. Kondisi ini memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi dunia.

Dampaknya, harga minyak dan gas melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Amerika Serikat kemudian mengambil langkah balasan dengan memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran sejak pertengahan April. Kebijakan tersebut membatasi ekspor minyak Iran serta akses terhadap barang-barang penting. Ketegangan pun terus meningkat seiring aksi saling klaim antara kedua pihak.

Baca Juga: Selisih 300 Ribuan dengan Antam, Harga Emas Perhiasan Hari Ini Bikin Konsumen Pikir-pikir

Pada Senin, beberapa jam setelah operasi pengawalan dimulai, militer Iran mengklaim telah menembaki kapal perang Amerika Serikat.

Namun, Komando Pusat AS membantah adanya kapal yang terkena serangan, meski mengakui adanya peluncuran rudal jelajah yang mengarah ke aset angkatan laut dan kapal komersial berbendera AS.

Dalam insiden tersebut, militer AS menyatakan telah menghancurkan enam perahu kecil Iran serta sejumlah rudal dan drone.

Baca Juga: Sosok H. Huda, Bos Tambang Dermawan: Santuni Ratusan Janda dan Bangun Fasilitas Warga!

Masih pada hari yang sama, Iran disebut meluncurkan sekitar 15 rudal ke arah UEA, sebagian besar merupakan rudal balistik. Ini menjadi serangan pertama sejak gencatan senjata antara kedua negara diberlakukan sekitar empat minggu sebelumnya.

Meski seluruh rudal diklaim berhasil dicegat oleh sistem pertahanan UEA, dampak tetap terasa dengan terjadinya kebakaran di Fujairah.

Fasilitas minyak di wilayah tersebut memiliki peran vital bagi ekspor energi UEA. Dengan kapasitas sekitar 1,7 juta barel per hari, fasilitas itu menyumbang hampir setengah dari total ekspor nasional.

Lokasinya yang strategis memungkinkan distribusi energi melewati Teluk Oman tanpa harus melalui Selat Hormuz.

Dalam insiden tersebut, tiga warga negara India dilaporkan mengalami luka-luka. Pemerintah India menyebut kejadian tersebut sebagai peristiwa yang “tidak dapat diterima.”

Meski situasi memanas dengan aksi saling serang, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa Iran tidak dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh.

Baca Juga: Shio Hari Ini, 5 Mei 2026: Tiga Shio Dihadapkan Perubahan Besar, Karier dan Hoki Dipertaruhkan

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa operasi perlindungan pelayaran bersifat sementara dan tidak bertujuan memicu konflik lebih luas.

“Kami tidak mencari perkelahian,” ujarnya. Pernyataan tersebut dinilai sejumlah pengamat sebagai sinyal pendekatan yang lebih moderat di tengah eskalasi kawasan.

Selama lima minggu konflik sebelum gencatan senjata disepakati pada awal April, UEA tercatat menjadi salah satu negara yang paling terdampak.

Ribuan serangan rudal dan drone dilaporkan menghantam wilayahnya, melampaui intensitas serangan di negara-negara Teluk lainnya maupun Israel.

Situasi ini menempatkan UEA dalam posisi rawan di tengah tarik-menarik kekuatan besar yang terus berlanjut di kawasan.

Editor : Bayu Shaputra
#UEA diserang #rudal #drone #iran