RADARSITUBONDO.ID - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menuntaskan rangkaian kunjungan kerja dalam Konferensi Tingkat Tinggi ke-48 ASEAN di Cebu dengan membawa penguatan komitmen bersama negara-negara Asia Tenggara untuk menghadapi tantangan global, terutama di sektor ketahanan pangan dan energi.
Pembahasan tersebut menjadi salah satu isu utama yang mengemuka dalam berbagai sesi pertemuan para pemimpin ASEAN di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia.
Pemerintah Indonesia menilai situasi global saat ini telah memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat di kawasan Asia Tenggara, khususnya pada sektor ekonomi strategis.
Baca Juga: PSS Sleman vs Garudayaksa FC di Final Liga 2 2025/2026, Adu Gengsi Perebutan Gelar Juara
Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, negara-negara ASEAN memiliki pandangan yang sama terkait pentingnya respons kolektif kawasan dalam menyikapi konflik global, termasuk situasi di Timur Tengah yang dinilai memengaruhi stabilitas pangan dan energi.
"Intinya adalah pertama, respons bersama ASEAN dalam menyikapi situasi yang terjadi di Timur Tengah yang semua merasakan, memberikan efek langsung terhadap kehidupan negara-negara di kawasan. Khususnya di sektor-sektor ekonomi, terlebih lagi di ketersediaan pangan dan energi," ujar Sugiono dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, kesadaran bersama mulai tumbuh di antara negara anggota ASEAN bahwa kawasan Asia Tenggara perlu memperkuat daya tahan di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang. Karena itu, kerja sama regional di bidang pangan dan energi menjadi fokus penting dalam agenda KTT ke-48 ASEAN.
"Ada satu kesadaran bersama yang tumbuh bahwa dengan situasi yang terjadi saat ini perlu suatu inisiatif bersama untuk menjadikan ASEAN ini sebagai suatu wilayah yang resilient, khususnya di bidang energi dan pangan," terangnya.
Baca Juga: Kemenkes Perketat Pemantauan di Bandara dan Pelabuhan Usai Kasus Hantavirus Andes di MV Hondius
Sugiono menjelaskan, arah pembahasan tersebut sejalan dengan prioritas pemerintahan Presiden Prabowo yang sejak awal menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi utama bagi kedaulatan nasional.
Pemerintah Indonesia saat ini juga terus mempercepat sejumlah program strategis untuk memperkuat kapasitas nasional di dua sektor tersebut.
Dalam forum tingkat tinggi itu, para pemimpin ASEAN juga menyepakati sejumlah hasil konkret untuk memperkuat ketahanan kawasan.
Di antaranya penguatan kerja sama melalui ASEAN Petroleum Security Agreement serta APTERR atau ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve yang difokuskan pada stabilitas cadangan energi dan pangan regional.
Baca Juga: Bernardo Tavares Minta Persebaya Fokus Penuh Hadapi Persis Solo yang Terancam Degradasi
Kesepakatan tersebut dinilai penting di tengah situasi global yang bergerak cepat dan saling terhubung. ASEAN memandang konflik di suatu kawasan dapat memberikan dampak langsung terhadap negara lain, termasuk kawasan Asia Tenggara.
"Karena kita sadari bersama sesuatu ataupun perang yang terjadi di sebuah kawasan yang jauh dari kita dengan cepat akan langsung berimbas pada perikehidupan masyarakat di kawasan kita. Dan inilah yang dirasakan oleh seluruh negara-negara ASEAN," imbuh Sugiono.
Baca Juga: Petani Situbondo Pakai Limbah Dapur Jadi Pupuk, Hasil Padi Disebut Naik Drastis
Melalui KTT ke-48 ASEAN di Filipina, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi regional dalam menjaga stabilitas kawasan.
Ketahanan pangan dan energi dipandang menjadi isu strategis yang akan menentukan kemampuan ASEAN menghadapi dinamika geopolitik dan ekonomi global ke depan.
Editor : Bayu Shaputra