RADARSITUBONDO.ID - Laporan terbaru mengungkap dugaan rencana pembunuhan terhadap Ivanka Trump, putri Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang disebut melibatkan seorang warga negara Irak dengan keterkaitan terhadap Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC.
Dugaan tersebut muncul setelah aparat Amerika Serikat menangkap Mohammad Baqer Saad Dawood Al-Saadi (32), yang disebut memiliki hubungan dengan jaringan militan pro-Iran di Timur Tengah.
Penangkapan Al-Saadi dilakukan di Turki pada 15 Mei sebelum akhirnya diekstradisi ke Amerika Serikat. Dalam dokumen dakwaan federal, pria tersebut disebut menghadapi sejumlah tuduhan terkait serangan dan percobaan serangan di beberapa negara Eropa serta Amerika Utara.
Baca Juga: Dony Tri Pamungkas Tak Takut Regulasi U23 Dihapus, Siap Bersaing di Super League 2026/2027
Kasus ini menjadi perhatian besar karena Al-Saadi diduga menjadikan keluarga Donald Trump sebagai target balas dendam atas tewasnya Qasem Soleimani dalam serangan pesawat nirawak Amerika Serikat di Baghdad pada 2020 lalu.
Soleimani diketahui merupakan komandan Pasukan Quds elite Iran yang memiliki pengaruh besar dalam operasi militer regional Teheran.
Menurut sejumlah sumber yang dikutip media Amerika, Al-Saadi bahkan disebut memiliki denah rumah Ivanka Trump di Florida. Selain itu, ia juga diduga mengunggah peta kawasan tempat Ivanka tinggal bersama suaminya, Jared Kushner, melalui media sosial X disertai ancaman dalam bahasa Arab.
“Setelah Qasem terbunuh, dia berkeliling memberi tahu orang-orang 'kita perlu membunuh Ivanka untuk membakar rumah Trump seperti dia membakar rumah kita,'” kata Entifadh Qanbar, mantan wakil atase militer Kedutaan Irak di Washington.
Baca Juga: Persib Bandung Butuh Satu Poin untuk Juara, Bojan Hodak Larang Pemain Bahas Perayaan
Qanbar juga menyebut pihaknya mendengar adanya rencana penyerangan terhadap rumah Ivanka di Florida. Pernyataan tersebut diperkuat sumber lain yang mengaku mengetahui rencana pembunuhan tersebut.
Dalam penyelidikan federal, Al-Saadi disebut sebagai tokoh penting di lingkaran kelompok militan Irak-Iran. Ia diduga menjadi bagian dari Kata'ib Hizbullah sekaligus memiliki koneksi dengan IRGC Iran. Kelompok tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu organisasi bersenjata yang memiliki hubungan erat dengan Teheran.
Elizabeth Tsurkov, Senior Fellow di New Lines Institute yang berbasis di Washington DC, mengatakan hubungan Al-Saadi dengan elite militer Iran sudah berlangsung lama.
Menurutnya, informasi yang tersedia menunjukkan Al-Saadi memiliki kedekatan dengan Qasem Soleimani sebelum akhirnya menjalin hubungan dengan Brigadir Jenderal Esmail Qaani yang menggantikan posisi Soleimani.
“Informasi yang tersedia untuk umum menunjukkan bahwa Mohammad Baqer berhubungan dan berteman dekat dengan Qasem Soleimani ... dan terlebih lagi dia kemudian dekat dengan (Esmail) Qaani yang menggantikan Soleimani,” ujarnya.
Baca Juga: Daftar Harga Tiket Timnas Indonesia di GBK Juni 2026, Lawan Oman dan Mozambik
Tsurkov menyebut kedekatan tersebut membuat Al-Saadi terus memperoleh dukungan sumber daya untuk membangun jaringan operasionalnya. Ia juga disebut menganggap Soleimani sebagai figur ayah setelah kematian ayah kandungnya, Ahmad Kazemi, seorang brigadir jenderal Iran, pada 2006.
Al-Saadi diketahui dibesarkan di Baghdad sebelum dikirim ke Teheran untuk menjalani pelatihan bersama IRGC. Dalam dokumen dakwaan federal, terdapat foto-foto yang memperlihatkan dirinya sedang berdiskusi dengan Soleimani di sebuah fasilitas yang diduga area militer.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat menyebut Al-Saadi didakwa terkait 18 serangan dan percobaan serangan yang menargetkan kepentingan Amerika Serikat serta komunitas Yahudi di berbagai negara.
Beberapa aksi yang dikaitkan dengannya antara lain pembakaran Bank of New York Mellon di Amsterdam pada Maret, penusukan terhadap dua korban Yahudi di London pada April, hingga penembakan di gedung konsulat Amerika Serikat di Toronto.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Sita Senjata Api hingga Motor Hasil Kejahatan dari 173 Tersangka
Selain itu, aparat federal juga menuding Al-Saadi terlibat dalam perencanaan serangan terhadap rumah ibadah Yahudi, termasuk pemboman sinagoge di Liège, Belgia, serta pembakaran sebuah kuil di Rotterdam.
Pihak berwenang Amerika Serikat menyebut masih ada sejumlah rencana serangan lain yang berhasil digagalkan dalam beberapa bulan terakhir. Serangan-serangan tersebut diduga berkaitan dengan konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan meningkatnya aksi balasan terhadap target Barat.
Saat ini Al-Saadi ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan Brooklyn dalam pengawasan ketat sambil menunggu proses hukum lanjutan.
Editor : Bayu Shaputra