Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Inggris, Prancis, dan Kanada Kompak Tolak Skema PDB NATO untuk Bantu Ukraina

Bayu Shaputra • Senin, 25 Mei 2026 | 09:10 WIB
Bendera NATO.
Bendera NATO.

 

RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah Inggris dan Prancis menolak usulan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte terkait tambahan alokasi anggaran pertahanan untuk membantu Ukraina.

Penolakan tersebut menandai masih adanya perbedaan sikap di antara negara anggota aliansi militer Atlantik Utara terkait skema dukungan jangka panjang kepada Kiev.

Laporan yang dimuat The Telegraph pada Minggu (24/5) menyebutkan, Rutte sebelumnya mengusulkan agar seluruh anggota NATO menambahkan 0,25 persen dari produk domestik bruto (PDB) masing-masing negara ke dalam anggaran pertahanan. Tambahan anggaran itu secara khusus diarahkan untuk mendukung persenjataan Ukraina.

Baca Juga: BMKG: Sebagian Besar Wilayah Jakarta Diguyur Hujan pada Senin Petang

Langkah tersebut dipromosikan Rutte sebagai upaya menjaga kesinambungan bantuan militer bagi Kiev di tengah perang yang masih berlangsung dengan Rusia.

Menurut sumber yang memahami pembahasan internal NATO, usulan itu diharapkan dapat menciptakan mekanisme pendanaan yang lebih stabil dibanding bantuan bilateral yang selama ini diberikan masing-masing negara anggota.

Namun, proposal tersebut tidak mendapat dukungan penuh. Selain Inggris dan Prancis, sejumlah negara lain seperti Spanyol, Italia, dan Kanada juga menolak rencana tersebut.

Di sisi lain, tujuh negara anggota NATO disebut menerima gagasan itu dan dinilai telah lebih dahulu mengalokasikan anggaran besar untuk mendukung Ukraina.

Baca Juga: Sejarah Kurs Dolar vs Rupiah dari Era Soekarno hingga Prabowo: Perjalanan 80 Tahun Mata Uang Garuda

The Telegraph tidak mengungkap secara rinci negara-negara yang mendukung proposal tersebut.

Meski demikian, laporan itu mengindikasikan bahwa negara-negara pendukung kemungkinan berasal dari kawasan Eropa Utara dan Timur yang selama ini dikenal aktif memberikan bantuan militer kepada Kiev.

Berdasarkan studi Institut Kiel untuk Ekonomi Dunia, negara-negara seperti Belanda, Polandia, serta beberapa negara Nordik dan Baltik termasuk pihak yang telah mengeluarkan anggaran cukup besar untuk mendukung Ukraina sejak konflik pecah.

Perbedaan pandangan di internal NATO menunjukkan belum adanya kesepakatan penuh terkait pola pembiayaan baru bagi Ukraina.

Sejumlah negara disebut mempertimbangkan tekanan ekonomi domestik dan prioritas anggaran nasional sebelum menyetujui tambahan kontribusi pertahanan dalam jumlah besar.

Di tengah perdebatan tersebut, Rusia kembali menegaskan sikapnya terhadap bantuan militer Barat kepada Ukraina.

Moskow menilai pengiriman senjata dari negara-negara NATO hanya akan memperpanjang konflik dan meningkatkan keterlibatan langsung negara-negara Barat dalam perang.

Baca Juga: Satpolairud Situbondo Razia Kapal Jaring di Panarukan, Diduga Langgar Jalur Tangkap

Pemerintah Rusia juga berulang kali menyampaikan bahwa dukungan persenjataan kepada Kiev dianggap sebagai bentuk keterlibatan dalam krisis yang sedang berlangsung. Moskow menilai langkah tersebut menghambat peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap pengiriman senjata untuk Ukraina akan diperlakukan sebagai target sah militer Rusia.

Pernyataan itu kembali menegaskan ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat yang terus meningkat sejak perang berlangsung.

Editor : Bayu Shaputra
#Prancis #Mark Rutte #Ukraina #Inggris #NATO