Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Trump Tolak Rusia dan China Simpan Uranium Iran, Negosiasi Nuklir Kian Rumit

Bayu Shaputra • Kamis, 28 Mei 2026 | 09:37 WIB
Presiden Donald Trump.
Presiden Donald Trump.

 

RADARSITUBONDO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan penolakannya terhadap kemungkinan Rusia maupun China mengambil alih penyimpanan uranium Iran yang telah diperkaya tingkat tinggi.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada Rabu (27/5) saat menanggapi isu yang berkembang dalam pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran.

Trump secara terbuka mengaku tidak nyaman apabila material nuklir Iran dipindahkan ke dua negara tersebut. “Tidak, saya tidak akan merasa nyaman. Itu tidak akan membuat saya nyaman,” ujar Trump.

Sikap itu memperlihatkan kerasnya posisi Washington terkait pengawasan program nuklir Iran, terutama menyangkut pengelolaan uranium yang telah diperkaya.

Isu tersebut menjadi salah satu poin paling sensitif dalam rangkaian negosiasi yang masih berlangsung antara kedua negara.

Baca Juga: Merasa Diintimidasi, Warga Kaliaget Mengadu ke DPRD

Sebelumnya pada 11 Mei lalu, Trump sempat menyatakan bahwa para negosiator Iran menilai hanya Amerika Serikat dan China yang memiliki kemampuan untuk memindahkan material nuklir milik Teheran. Pernyataan itu memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan keterlibatan negara lain dalam proses pengamanan uranium Iran.

Di sisi lain, Rusia menunjukkan kesiapan untuk mengambil peran dalam persoalan tersebut. Pada 18 April, perusahaan energi nuklir milik negara Rusia, Rosatom, menyatakan bersedia membantu pemindahan uranium Iran yang telah diperkaya apabila diperlukan dalam skema kesepakatan internasional.

Pernyataan Rosatom muncul ketika isu pengelolaan uranium Iran terus menjadi pembahasan utama dalam negosiasi antara Washington dan Teheran.

Uranium yang telah diperkaya dianggap sebagai elemen krusial karena berkaitan langsung dengan potensi pengembangan program nuklir Iran.

Dukungan Rusia kembali ditegaskan oleh Duta Besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Vassily Nebenzia.

Pada Selasa, Nebenzia mengatakan Moskow siap menyimpan material nuklir Iran yang telah diperkaya jika Teheran meminta hal tersebut sebagai bagian dari kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Pernyataan dari pihak Rusia tersebut memperlihatkan upaya Moskow untuk tetap terlibat dalam dinamika diplomasi nuklir Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Namun, sikap tegas Trump mengindikasikan bahwa Washington belum membuka ruang terhadap opsi penyimpanan uranium Iran oleh Rusia maupun China.

Baca Juga: Melihat Kegiatan Petugas dan Warga Binaan Rutan Kelas IIB Situbondo di Hari Raya Kurban, Nyate Bareng Daging Kurban Merekatkan Kebersamaan

Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa dan memperburuk hubungan antara Washington dengan Teheran.

Situasi sempat mereda setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata pada 7 April. Meski demikian, pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad belum menghasilkan terobosan berarti terkait penyelesaian konflik maupun kesepakatan nuklir baru.

Hingga kini belum ada laporan mengenai pecahnya kembali konflik bersenjata secara terbuka. Namun, tekanan terhadap Iran masih berlangsung setelah Washington menerapkan blokade terhadap pelabuhan dan wilayah perairan Iran.

Baca Juga: Kasus BBM Solar 42 Ton Belum Menyentuh Akar Masalah, Polri Diminta Tidak Tanggung

Kondisi tersebut membuat proses negosiasi semakin kompleks. Di satu sisi, Iran berupaya mempertahankan kepentingan program nuklirnya.

Di sisi lain, Amerika Serikat terus memperketat pengawasan terhadap aktivitas nuklir Teheran, termasuk terkait pengelolaan uranium yang telah diperkaya.

Editor : Bayu Shaputra
#uranium #iran #Rusia #china #Donald Trump