Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Amerika Serikat dan Iran Bahas Perpanjangan Gencatan Senjata, Trump Masih Menimbang

Bayu Shaputra • Jumat, 29 Mei 2026 | 11:03 WIB
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026.  (Jawapos)
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. (Jawapos)

 

RADARSITUBONDO.ID - Amerika Serikat dan Iran disebut semakin mendekati kesepakatan untuk memperpanjang masa gencatan senjata yang saat ini masih berlangsung.

Pembahasan kedua negara mengarah pada nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang akan memperpanjang penghentian konflik selama 60 hari ke depan.

Meski kerangka kesepakatan disebut sudah terbentuk, Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga kini belum memberikan persetujuan akhir terhadap dokumen tersebut. Pemerintah AS sebelumnya menyampaikan bahwa kedua pihak telah mencapai titik temu awal terkait perpanjangan gencatan senjata.

Baca Juga: Daftar Final Argentina Piala Dunia 2026: Lionel Messi Tetap Jadi Andalan Scaloni

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan masih berlangsung dan belum seluruh poin dalam dokumen disepakati sepenuhnya. Karena itu, Trump disebut belum menandatangani MoU yang menjadi dasar perpanjangan kesepakatan tersebut.

“Sulit untuk mengatakan kapan atau apakah Presiden akan menandatangani MoU itu,” kata Vance kepada wartawan.

Menurut dia, masih ada sejumlah bagian yang terus dibahas antara delegasi Washington dan Teheran. Namun, proses negosiasi dinilai menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa hari terakhir.

“Kami masih bolak-balik membahas beberapa poin. Kami sudah membuat banyak kemajuan,” ujarnya.

Baca Juga: Disambut Emmanuel Macron, Prabowo Hadiri Santap Malam Kenegaraan di Paris

Vance yang turut terlibat dalam proses perundingan menyebut Iran sejauh ini menunjukkan sikap kooperatif selama pembicaraan berlangsung. Ia mengatakan kedua negara memiliki kepentingan yang sama untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kawasan tersebut menjadi salah satu titik penting perdagangan energi dunia dan sebelumnya sempat terganggu akibat meningkatnya ketegangan militer antara kedua negara.

Meski demikian, pembahasan terkait program nuklir Iran masih menjadi isu yang belum menemukan titik sepakat. Salah satu perbedaan utama menyangkut persediaan uranium yang telah diperkaya milik Teheran.

“Mudah-mudahan kami terus membuat kemajuan dan presiden berada dalam posisi untuk mendukung perjanjian ini, tetapi tentu saja itu masih (belum ditentukan),” kata Vance.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengungkapkan peluang tercapainya kesepakatan mulai terlihat. Menurut dia, proses negosiasi telah menghasilkan dasar awal yang memungkinkan kedua negara melanjutkan pembicaraan lebih lanjut.

“Kami mungkin sudah memiliki dasar untuk sebuah kesepakatan di sini,” ujar Bessent dalam pengarahan di Gedung Putih.

Baca Juga: Barcelona Dikabarkan Capai Kesepakatan Rekrut Anthony Gordon dari Newcastle United

Meski membuka peluang kompromi, Bessent menegaskan bahwa pemerintahan Trump tidak akan menerima perjanjian yang dianggap merugikan kepentingan Amerika Serikat.

“Dia tidak akan menerima kesepakatan yang buruk. Dia akan membuat kesepakatan hebat untuk rakyat Amerika,” katanya.

Dalam rancangan MoU tersebut, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu poin utama yang dibahas. Jalur pelayaran strategis itu nantinya dijamin tetap terbuka tanpa hambatan, pungutan tambahan, maupun gangguan terhadap kapal dagang yang melintas.

Selain itu, Iran juga disebut memiliki kewajiban membersihkan seluruh ranjau laut di kawasan tersebut dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan diberlakukan.

Baca Juga: Tiga Bulan Serapan 'Brantas Plus' Rp 485 Juta

Sebagai bagian dari kesepakatan, Amerika Serikat akan mulai mencabut blokade angkatan laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran secara bertahap. Langkah itu dilakukan sesuai perkembangan pemulihan jalur pelayaran komersial internasional.

MoU tersebut juga memuat komitmen Iran untuk tidak mengejar kepemilikan senjata nuklir. Namun, pembahasan teknis mengenai program nuklir Iran belum diselesaikan dalam tahap awal ini dan akan dibahas kembali dalam perundingan berikutnya.

Salah satu isu yang menjadi perhatian utama adalah mekanisme pembuangan persediaan uranium yang telah diperkaya milik Iran. Persoalan itu dinilai menjadi titik sensitif dalam pembicaraan kedua negara.

Sementara itu, Trump sebelumnya menyampaikan dirinya belum sepenuhnya puas dengan tawaran yang diberikan Iran. Dalam rapat kabinet pada Rabu (27/5/2026), ia bahkan mengingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka apabila negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan yang sesuai keinginan Washington.

Trump berulang kali menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam kesepakatan apa pun yang dibuat untuk mengakhiri konflik antara AS, Israel, dan Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu.

Baca Juga: Staf RSUD Abdoer Rahem Tewas Ditabrak Truk

Adapun gencatan senjata sebenarnya telah berlaku sejak 7 April. Namun, situasi di lapangan masih diwarnai ketegangan setelah Washington dan Teheran saling menuduh melakukan pelanggaran kesepakatan pada Kamis menyusul insiden saling tembak.

Meski muncul tudingan dari kedua pihak, pemerintah AS memastikan gencatan senjata masih tetap berlaku hingga saat ini. Scott Bessent mengatakan pemerintahan Trump tetap mengedepankan penyelesaian damai dalam konflik tersebut.

“Presiden Trump selalu lebih memilih kesepakatan damai, jadi semua yang kami lakukan sejauh ini bersifat defensif, dan saat ini itulah yang akan terus kami lakukan,” katanya.

Editor : Bayu Shaputra
#iran #Amerika Serikat #Donald Trump