RADARSITUBONDO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Israel dan kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan serangan satu sama lain.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Senin (1/6) melalui akun media sosial Truth Social setelah serangkaian komunikasi yang disebutnya berlangsung secara intensif dengan kedua pihak.
Trump mengungkapkan bahwa dirinya melakukan pembicaraan yang ia sebut sebagai “panggilan telepon yang sangat produktif” dengan kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu. Dalam komunikasi tersebut, Trump mengatakan telah memperoleh jaminan bahwa Israel tidak akan mengirim pasukan ke Beirut.
"Tidak akan ada pasukan yang pergi ke Beirut, dan pasukan mana pun yang sedang dalam perjalanan telah dipulangkan," kata Trump.
Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan yang masih berlangsung di kawasan perbatasan Israel-Lebanon. Dalam unggahannya, Trump menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya untuk meredakan situasi keamanan dan mencegah eskalasi lebih lanjut.
Baca Juga: Pasang Atap KDMP di Situbondo, Pekerja Asal Malang Tewas Jatuh dari Ketinggian
Selain berbicara dengan pihak Israel, Trump juga mengaku telah melakukan komunikasi melalui perantara senior dengan Hizbullah. Menurutnya, pembicaraan itu menghasilkan komitmen dari kelompok tersebut untuk menghentikan aksi permusuhan terhadap Israel.
"Demikian pula, melalui perwakilan tingkat tinggi, saya melakukan pembicaraan yang sangat baik dengan Hizbullah, dan mereka setuju bahwa semua penembakan akan berhenti—bahwa Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel," ujar Trump.
Trump menilai kesepahaman tersebut dapat menjadi langkah penting dalam mengurangi ketegangan yang selama beberapa bulan terakhir memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, belum ada rincian lebih lanjut mengenai mekanisme pelaksanaan maupun pengawasan atas komitmen yang disebut telah dicapai kedua pihak.
Situasi di Lebanon sendiri masih dibayangi dampak konflik yang berkepanjangan. Di tengah berlakunya gencatan senjata yang dimulai pada 17 April dan kemudian diperpanjang selama 45 hari setelah pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Amerika Serikat, serangan militer Israel dilaporkan terus berlangsung di sejumlah wilayah Lebanon.
Ketegangan yang terus terjadi menunjukkan bahwa kondisi keamanan di lapangan masih menjadi tantangan besar bagi upaya perdamaian. Meski terdapat berbagai inisiatif diplomatik untuk menahan eskalasi, bentrokan dan serangan bersenjata masih tercatat terjadi dalam periode gencatan senjata tersebut.
Baca Juga: Ngaku TNI, Oknum Prada AL di Situbondo Diduga Aniaya Penjual Motor hingga Gigi Copot
Data Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 3.400 orang di berbagai wilayah negara itu. Korban jiwa yang terus bertambah menjadi salah satu isu utama yang mendorong desakan internasional agar seluruh pihak menahan diri dan mematuhi kesepakatan penghentian permusuhan.
Editor : Bayu Shaputra