RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah Amerika Serikat memperluas tekanan terhadap Kuba dengan menjatuhkan sanksi kepada Presiden Miguel Diaz-Canel beserta sejumlah tokoh inti pemerintahan di Havana.
Langkah itu juga menyasar anggota keluarga mantan Presiden Raul Castro, militer Kuba, hingga sejumlah lembaga dan perusahaan yang didukung negara.
Departemen Keuangan Amerika Serikat melalui Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) memasukkan Diaz-Canel ke dalam daftar Warga Negara yang Ditunjuk Secara Khusus (Specially Designated Nationals/SDN). Sanksi yang sama turut dikenakan kepada istri dan anak Presiden Kuba tersebut, Lis Cuesta Peraza dan Manuel Anido Cuesta.
Baca Juga: Resmi Tinggalkan TNI, Mayjen Trenggono Masuk Jajaran Baru BGN di Tengah Kasus Korupsi MBG
Washington juga menjatuhkan sanksi terhadap anak dan cucu Raul Castro, yakni Alejandro Castro Espin dan Raul Alejandro Castro Calis.
Tidak hanya individu, AS memperluas daftar target dengan memasukkan Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner (MINFAR), militer Kuba, serta Komite Pertahanan Revolusi (CDR).
Organisasi yang dibentuk pada 1960 itu selama ini dikenal sebagai jaringan pemantauan masyarakat yang bertugas melaporkan aktivitas yang dianggap "kontra-revolusioner".
Sanksi tambahan juga dijatuhkan kepada perusahaan pertambangan yang didukung Pemerintah Kuba, Minera La Victoria SA. Selain itu, Institut Persahabatan Kuba dengan Rakyat (ICAP) dan unit perjalanan komersialnya, Amistur Cuba SA, turut masuk dalam daftar sanksi.
Baca Juga: Jadwal Indonesia Open 2026 Hari Ini: 7 Wakil Indonesia Berebut Tiket Semifinal di Istora
Di tengah langkah terbaru tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan bahwa Kuba akan menjadi fokus berikutnya setelah Washington menyelesaikan urusan terkait Iran.
"Negara itu sudah runtuh dan kami akan menanganinya segera setelah kami selesai, kami akan menangani Republik Islam Iran; dan begitu selesai, dalam perjalanan pulang, kami hanya akan singgah sebentar," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Kamis (4/6).
Saat ditanya apakah kebijakan sanksi Washington bertujuan mempercepat keruntuhan Kuba, Trump membantah tudingan tersebut.
"Tidak," jawab Trump.
Baca Juga: Resmi Hengkang dari Persija, Maxwell Souza Akui Berat Tinggalkan Macan Kemayoran
Menurut dia, Amerika Serikat hanya menginginkan Kuba menjadi negara yang dikelola dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya.
"Saya hanya ingin Kuba menjadi negara yang dapat dikelola dengan baik dan mampu memberi makan rakyatnya," ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Kuba di Havana terkait sanksi terbaru tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuduh Kuba terus menjalankan kampanye politik, ideologis, dan institusional yang ditujukan terhadap Amerika Serikat.
"Sanksi ini menargetkan jaringan aksi radikal yang luas dan kekerasan dari rezim Kuba serta para aktor yang melaksanakan dan mendanai jaringan itu. Entitas dan individu yang ditetapkan hari ini mengarahkan atau mendanai rezim tersebut dan upayanya untuk memobilisasi gerakan revolusioner radikal di Amerika Serikat dan di seluruh dunia," ujar Rubio dalam pernyataannya.
Editor : Bayu Shaputra