RADARSITUBONDO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran.
Di tengah proses perdamaian yang baru disepakati kedua negara, Trump menegaskan Washington siap melancarkan serangan militer kembali apabila Teheran tidak mematuhi kesepakatan yang sedang dirundingkan.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat menghadiri pertemuan negara-negara G7 di Prancis, Rabu.
Menurut dia, nota kesepahaman perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang mengatur penghentian permusuhan serta pembukaan Selat Hormuz masih belum bersifat final.
"Jika saya tak menghendakinya, kami akan kembali menembaki mereka, menjatuhkan bom di atas kepala mereka," kata Trump menjelang pertemuannya dengan Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi di sela-sela pertemuan G7.
"Jika mereka tak bersikap baik, kami akan menjatuhkan bom yang langsung menghantam kepala mereka," ucap Presiden AS itu.
Baca Juga: Kericuhan Warnai Eksekusi Eks Hotel Sultan, Water Canon Diterjunkan di Lokasi
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menyatakan memorandum perdamaian tersebut akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Masa itu dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi kedua pihak menyelesaikan negosiasi menuju kesepakatan final yang secara resmi mengakhiri perang.
Memorandum yang diumumkan pada Ahad lalu juga memuat ketentuan bahwa Amerika Serikat akan mengakhiri blokade laut yang diberlakukan sejak April terhadap seluruh kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran.
Usai KTT G7 yang berlangsung selama tiga hari di kota resor Evian-les-Bains, Trump menggelar konferensi pers lebih dari satu jam. Dalam kesempatan itu, dia menyatakan bangga karena berhasil mencapai kesepakatan yang dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6).
Trump mengungkapkan bahwa rincian memorandum tersebut telah dipaparkan kepada para pemimpin negara anggota G7 dan mendapat respons positif.
Dokumen perdamaian yang terdiri atas 14 poin dan dirilis pada Rabu itu juga menyebutkan bahwa isu program nuklir Iran, pencabutan sanksi, serta sejumlah persoalan strategis lainnya akan menjadi agenda pembahasan dalam putaran negosiasi berikutnya.
Baca Juga: Harry Kane Ungkap Kunci Inggris Kalahkan Kroasia 4-2 di Piala Dunia 2026
Konflik antara Washington dan Teheran memanas sejak pertengahan Februari ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran. Saat itu, Trump mengeklaim tujuan utama serangan adalah mencegah Teheran memiliki senjata nuklir.
Namun dalam konferensi pers yang sama, Trump mengakui dampak ekonomi dari perang tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong pemerintahannya mempercepat upaya penghentian konflik.
"Saya tak ingin bencana ekonomi terjadi," kata dia.
Baca Juga: KPK Dalami Status Kepegawaian Budiman Bayu
Trump, yang mengumumkan tercapainya kesepakatan AS-Iran bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80, juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping yang menurutnya tetap bersikap netral selama konflik berlangsung.
"Mereka bisa saja mempersulit kami," kata Trump soal negosiasi untuk mencapai kesepakatan damai.
Meski demikian, Trump menegaskan opsi militer tetap berada di atas meja. Dia kembali memperingatkan bahwa apabila kesepakatan final tidak tercapai dalam 60 hari ke depan, Amerika Serikat siap melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Editor : Bayu Shaputra