RADARSITUBONDO.ID - Pentagon tengah mengkaji kembali keberadaan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Langkah tersebut menjadi perhatian setelah perang dengan Iran berdampak terhadap sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Kajian itu membuka kemungkinan terjadinya perubahan terhadap postur militer Washington di Timur Tengah. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mengurangi jumlah personel militer AS yang selama ini ditempatkan di kawasan tersebut.
Laporan The Washington Post menyebut sejumlah pangkalan utama AS di negara-negara Teluk telah mengalami serangan Iran selama berbulan-bulan.
Kerusakan yang ditimbulkan kini menjadi pertimbangan Pentagon dalam menentukan arah kehadiran militernya ke depan.
Baca Juga: Demo BEM UI di Bundaran HI Bawa 8 Tuntutan, Ketua BEM Sindir Kemerdekaan
Kerusakan sejumlah fasilitas militer tersebut dinilai membuka ruang bagi Washington untuk meninjau kembali kebutuhan pangkalan-pangkalan yang selama ini menjadi bagian penting dari operasi militer AS di Timur Tengah.
Sejumlah pejabat bahkan mempertimbangkan kemungkinan bahwa beberapa pangkalan yang rusak tidak akan dibangun kembali dengan bentuk dan kapasitas seperti sebelumnya.
Kajian tersebut dipimpin oleh kantor kebijakan Pentagon. Kepala Staf Gabungan dan Komando Pusat AS atau CENTCOM juga terlibat dalam pembahasan mengenai perubahan postur militer Amerika Serikat di kawasan.
Meski demikian, seorang pejabat senior Pentagon menegaskan bahwa Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth belum memerintahkan adanya kajian resmi mengenai perubahan keberadaan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Pejabat tersebut menggambarkan proses yang sedang berlangsung sebagai "perencanaan yang bijaksana". Menurut dia, pembahasan itu diperlukan untuk membantu Pentagon menentukan langkah terhadap pangkalan-pangkalan yang mengalami kerusakan.
"Keputusan harus dibuat terkait beberapa hal ini," kata pejabat tersebut.
Baca Juga: Pendaki 16 Tahun Jatuh ke Kawah Gunung Slamet, Jenazah Berhasil Dievakuasi
Selama ini, CENTCOM menjadi salah satu komando utama yang menangani kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Komando tersebut biasanya menempatkan sekitar 40.000 personel di hampir 20 lokasi yang membentang dari Yordania hingga Oman.
Kehadiran militer AS di kawasan itu juga didukung oleh sejumlah pangkalan strategis yang berada di negara-negara Teluk.
Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dari kemampuan Washington dalam mengerahkan pasukan, pesawat tempur, kapal perang, serta sistem pertahanan udara di Timur Tengah.
Sejak awal tahun ini, Amerika Serikat telah meningkatkan kekuatan militernya di kawasan tersebut.
Washington mengerahkan tambahan kapal perang, pesawat tempur, dan sistem pertahanan udara sebagai bagian dari respons terhadap meningkatnya konflik dengan Iran.
Baca Juga: Jay Herdman Resmi Gabung Bali United, Pernah Lawan Timnas Indonesia U-20
Dalam periode tersebut, Amerika Serikat juga melancarkan lebih dari 13.000 serangan terhadap Iran. Intensitas konflik kemudian berdampak terhadap sejumlah fasilitas militer AS yang berada di kawasan Teluk.
Situasi tersebut membuat Pentagon harus mempertimbangkan kembali kebutuhan terhadap sejumlah pangkalan.
Selain persoalan biaya dan pembangunan ulang, keberadaan fasilitas militer di lokasi tertentu juga perlu disesuaikan dengan perubahan ancaman keamanan di kawasan.
Pangkalan permanen terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah selama ini terkonsentrasi di negara-negara Teluk. Salah satunya berada di Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima AS.
Selain Bahrain, Amerika Serikat juga memiliki fasilitas penting untuk Angkatan Darat dan Angkatan Udara di sejumlah negara kawasan, termasuk Kuwait.
Pangkalan-pangkalan tersebut selama bertahun-tahun menjadi bagian dari strategi militer Washington dalam menjaga kepentingannya di Timur Tengah.
Namun, kerusakan akibat konflik dengan Iran berpotensi mengubah pola tersebut. Jika sebagian fasilitas tidak dibangun kembali seperti sebelumnya, posisi dan jumlah pasukan Amerika Serikat di kawasan juga dapat mengalami perubahan.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber