RADARSITUBONDO.ID - Iran mulai memulihkan fasilitas minyak dan gas di South Pars yang mengalami kerusakan akibat serangan dalam eskalasi konflik beberapa waktu lalu.
Hingga kini, sekitar 40 persen kapasitas produksi yang terdampak disebut telah berhasil dipulihkan.
Wakil Menteri Perminyakan Iran Ahmad Zeraatkar mengatakan proses pemulihan terus berjalan di tengah upaya mengembalikan kapasitas produksi fasilitas energi strategis tersebut.
“Kami dapat mengatakan bahwa kami berhasil memulihkan sekitar 40 persen kapasitas yang rusak,” kata Zeraatkar dalam wawancara dengan kantor berita Fars, dilansir dari Antara, Jumat (28/8).
Baca Juga: Jelang Hadapi Manila Digger, Igor Tolic Tegaskan Persib Bandung Tak Boleh Lengah
South Pars menjadi salah satu kawasan penting bagi sektor energi Iran. Fasilitas minyak dan gas di kawasan tersebut mengalami kerusakan setelah menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel selama eskalasi konflik pada Maret.
Kerusakan yang terjadi membuat Iran harus melakukan pemulihan secara bertahap. Pemerintah Iran sebelumnya telah menyiapkan rencana untuk memperbaiki sekaligus memodernisasi sejumlah infrastruktur yang terdampak.
Pada Mei, otoritas Iran menyatakan pekerjaan pemulihan dan modernisasi fasilitas South Pars ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu maksimal dua tahun.
Target tersebut menunjukkan bahwa pemulihan fasilitas tidak dilakukan secara singkat, mengingat tingkat kerusakan yang terjadi.
Baca Juga: Nil Maizar Disebut Andre Rosiade Gantikan John Herdman, Kurniawan Dwi Yulianto Beri Respons
Iran juga menargetkan sekitar 50 persen pekerjaan pemulihan fasilitas South Pars dapat diselesaikan pada musim dingin 2027.
Dengan demikian, proses pengembalian kapasitas produksi dilakukan secara bertahap sesuai kondisi infrastruktur yang mengalami kerusakan.
Zeraatkar mengatakan kerusakan pada infrastruktur South Pars tergolong serius. Karena itu, pemulihan kapasitas produksi secara keseluruhan diperkirakan membutuhkan waktu panjang.
Menurut dia, kapasitas produksi secara penuh kemungkinan baru dapat dikembalikan setelah sedikitnya dua tahun.
Proses tersebut tidak hanya berkaitan dengan perbaikan fasilitas yang rusak, tetapi juga pemulihan infrastruktur agar dapat kembali beroperasi secara optimal.
Baca Juga: Tawaran Investasi Berimbal Hasil Tinggi Marak, BRI Tekankan Pentingnya Verifikasi
Pernyataan Zeraatkar mengenai pemulihan 40 persen kapasitas produksi juga muncul setelah adanya keterangan berbeda dari pejabat Iran lainnya.
Sebelumnya, Touraj Dehghani, Kepala Pars Oil and Gas Company, menyebut pemulihan kapasitas produksi di kilang South Pars telah mencapai 70 persen pada pekan lalu.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan adanya perkembangan pemulihan di sejumlah bagian fasilitas South Pars dengan tingkat yang berbeda.
Pemerintah Iran masih terus melakukan pekerjaan untuk mengembalikan keseluruhan kemampuan produksi yang terdampak serangan.
South Pars sendiri memiliki posisi penting dalam sektor energi Iran. Karena itu, pemulihan fasilitas tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan produksi minyak dan gas negara tersebut setelah kerusakan akibat konflik.
Rangkaian kerusakan tersebut tidak terlepas dari eskalasi konflik yang terjadi sejak akhir Februari. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan balasan. Situasi tersebut memicu peningkatan ketegangan yang turut berdampak terhadap sejumlah fasilitas strategis di wilayah Iran.
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington kemudian menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan permusuhan. Kesepakatan tersebut sempat membuka peluang bagi meredanya konflik antara kedua pihak.
Namun, situasi kembali memanas tidak lama setelah nota kesepahaman tersebut ditandatangani. Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber