Banjir Dahsyat Nepal Tewaskan 1.114 Orang, Ratusan Pekerja Belum Ditemukan

Agung Sedana • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:01 WIB
Kondisi Sungai Trishuli yang meluap dan dipenuhi puing-puing setelah banjir bandang di distrik Nuwakot, Nepal, pada hari Rabu. (Niranjan Shrestha/AP)
Kondisi Sungai Trishuli yang meluap dan dipenuhi puing-puing setelah banjir bandang di distrik Nuwakot, Nepal, pada hari Rabu. (Niranjan Shrestha/AP)

RADARSITUBONDO.ID - Bencana banjir dan aliran material dahsyat di Nepal terus menelan korban. Hingga 2 September 2026, sedikitnya 1.114 orang dilaporkan meninggal dunia dan hampir 4.000 lainnya masih hilang. Tim penyelamat kini menghadapi tantangan besar karena ratusan orang diduga masih berada di dalam terowongan dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air yang tertimbun lumpur serta material longsoran.

Ratusan orang masih dicari di fasilitas pembangkit listrik

Operasi pencarian kini dipusatkan di sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air di wilayah yang terdampak paling parah.

Menurut laporan Reuters pada 2 September, sebanyak 279 orang telah berhasil diselamatkan dari kawasan proyek pembangkit listrik, tetapi sedikitnya 639 orang lainnya masih belum ditemukan. Tim dari Nepal, India, China, dan Amerika Serikat dikerahkan untuk membantu pencarian di lokasi yang tertutup lumpur dan material longsoran.

Jumlah tersebut menjadi salah satu bagian paling rumit dalam operasi penyelamatan karena banyak fasilitas pembangkit dibangun di bawah tanah. Akses menuju ruang pembangkit dan terowongan terhambat oleh endapan lumpur, batu, serta material lain yang terbawa arus banjir.

The Kathmandu Post melaporkan angka yang lebih tinggi untuk pekerja yang belum ditemukan di proyek hidro, yakni 947 orang. Dari jumlah itu, lebih dari 557 orang dilaporkan belum diketahui keberadaannya di proyek Upper Trishuli-1 berkapasitas 216 megawatt. Perbedaan angka dengan laporan Reuters menunjukkan data pencarian masih terus diperbarui dan belum sepenuhnya terkonsolidasi.

Korban tewas telah menembus 1.100 orang

Reuters melaporkan sedikitnya 1.114 orang meninggal dunia di Nepal, sementara hampir 4.000 orang masih hilang. Jumlah tersebut terus berubah seiring tim pencari menemukan lebih banyak jenazah dari aliran sungai dan kawasan yang sebelumnya sulit dijangkau.

Data Nepal Police yang dikutip The Kathmandu Post pada Rabu pagi bahkan mencatat 1.127 jenazah telah ditemukan, dengan 4.858 orang dilaporkan hilang. Polisi menyebut 1.113 jenazah telah menjalani proses pemeriksaan dan identifikasi hukum, sementara 911 jenazah yang belum teridentifikasi datanya telah diunggah ke situs kepolisian untuk membantu keluarga melakukan pencarian.

Perbedaan angka tersebut terutama terkait waktu pembaruan dan proses pencatatan korban. Karena operasi pencarian masih berlangsung, angka korban sebaiknya dibaca berdasarkan waktu dan sumber yang digunakan.

Bencana bermula dari runtuhan es dan batu

Banjir tersebut bukan semata-mata akibat hujan deras yang meluapkan sungai. Menurut U.S. Geological Survey atau USGS, pada pagi 26 Agustus terjadi kegagalan lereng besar yang melibatkan gletser di kawasan Langtang National Park, dekat perbatasan Nepal-China. Material kemudian bergerak ke sistem sungai dan menghasilkan aliran debris serta banjir yang menempuh jarak sekitar 100 kilometer hingga wilayah berpenduduk.

USGS memperkirakan runtuhan tersebut menghasilkan energi yang setara dengan gempa berkekuatan M5,2. Namun, lembaga itu menegaskan penelitian awal belum dapat memastikan apakah kejadian tersebut merupakan longsoran yang membawa sebagian gletser atau keruntuhan gletser secara langsung.

Karena itu, penyebutan bencana ini sebagai sekadar "banjir akibat gletser mencair" tidak sepenuhnya menggambarkan proses yang terjadi. Peristiwa awal berupa kegagalan lereng yang melibatkan es dan batu kemudian memicu aliran material serta banjir dahsyat di sepanjang sistem sungai.

Sungai membawa material hingga puluhan kilometer

USGS menyebut aliran tersebut bergerak melalui kawasan Lende Khola dan Trishuli Khola, menghantam permukiman, infrastruktur, serta pos perbatasan Rasuwagadhi. Banyak bangunan dan fasilitas transportasi diperkirakan terkubur atau hancur.

Besarnya material yang terbawa banjir terlihat dari hasil analisis awal United Nations Development Programme atau UNDP. Lembaga tersebut memperkirakan sedikitnya 2,2 juta ton material puing berada di kawasan yang dianalisis. Sebanyak 11 pembangkit listrik tenaga air dan satu pembangkit tenaga surya dengan total kapasitas 431,1 megawatt berhenti beroperasi.

Kerusakan itu memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak berhenti pada korban jiwa. Sistem energi, jalan, permukiman dan berbagai fasilitas ekonomi ikut terdampak dalam waktu singkat.

Tim penyelamat berpacu dengan waktu

Operasi penyelamatan menghadapi kondisi medan yang sangat sulit. Banyak lokasi masih tertutup material longsoran, sedangkan beberapa korban yang dicari berada di ruang bawah tanah atau terowongan.

The Kathmandu Post melaporkan keluarga pekerja yang hilang mulai mendesak pemerintah dan operator proyek untuk mempercepat pencarian. Di Upper Trishuli-3A, misalnya, keluarga menyatakan sekitar 40 orang diduga terjebak di fasilitas pembangkit bawah tanah. Di Upper Trishuli-1, ratusan orang juga masih belum diketahui keberadaannya.

Tim teknis dari India, China, Korea Selatan, dan pihak lain kemudian dilibatkan untuk mendukung operasi. Tantangannya bukan hanya menemukan korban, tetapi juga menentukan cara masuk ke struktur bawah tanah tanpa membahayakan tim penyelamat.

Jalan utama Nepal ikut lumpuh

Kerusakan akibat banjir juga memutus sejumlah jalur transportasi penting. Salah satu yang paling parah adalah Prithvi Highway, jalan utama yang menjadi salah satu akses penting menuju Kathmandu.

The Kathmandu Post melaporkan sekitar 70 meter bagian jalan di kawasan Krishnabhir ambruk ke Sungai Trishuli, sementara sekitar 120 meter lainnya mengalami retakan parah. Jalan tersebut telah ditutup sejak Minggu.

Kondisi itu menyulitkan mobilisasi bantuan dan memperlambat akses menuju sejumlah wilayah yang masih membutuhkan pencarian serta distribusi bantuan.

Ribuan orang telah berhasil diselamatkan

Meski korban jiwa sangat besar, operasi penyelamatan juga telah berhasil mengevakuasi ribuan orang.

Laporan pemerintah Nepal yang dikutip The Kathmandu Post menyebut 11.814 orang telah diselamatkan, termasuk 253 warga negara asing, berdasarkan data situasi yang dirilis 1 September. Pemerintah mengerahkan lebih dari 21.000 personel keamanan dari tentara, polisi dan kepolisian bersenjata untuk operasi pencarian dan penyelamatan.

Namun, operasi belum selesai. Banyak wilayah masih harus diperiksa ulang, sementara daftar orang hilang terus mengalami perubahan seiring ditemukannya korban atau keluarga yang berhasil menghubungi pihak berwenang.

Nepal mulai memasuki fase rehabilitasi

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengatakan pemerintah mulai menggeser perhatian secara bertahap dari operasi penyelamatan menuju rehabilitasi dan rekonstruksi, meskipun pencarian korban masih berlangsung. Bantuan medis, dukungan psikologis dan pemulihan infrastruktur menjadi bagian dari tahap berikutnya.

Skala kerusakan membuat proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang. Selain korban jiwa dan warga yang hilang, ribuan rumah, jalan, fasilitas energi dan infrastruktur perdagangan harus diperiksa dan diperbaiki.

Bagi Nepal, bencana 26 Agustus bukan hanya tragedi akibat banjir, tetapi rangkaian bencana yang dimulai dari runtuhan material es dan batu di kawasan Himalaya lalu berubah menjadi aliran dahsyat yang menyapu wilayah hilir.

Sementara itu, harapan untuk menemukan korban selamat di dalam terowongan pembangkit listrik masih menjadi salah satu fokus utama. Namun, setelah lebih dari sepekan, waktu terus menjadi faktor paling menentukan dalam operasi penyelamatan tersebut.

Editor : Agung Sedana
banjir bandang nepal