Bukan Gempa, Ini Pemicu Sebenarnya Banjir Nepal yang Tewaskan Lebih dari 1.100 Orang

Agung Sedana • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:11 WIB
Kondisi Sungai Trishuli yang meluap dan dipenuhi puing-puing setelah banjir bandang di distrik Nuwakot, Nepal, pada hari Rabu. (Niranjan Shrestha/AP)
Kondisi Sungai Trishuli yang meluap dan dipenuhi puing-puing setelah banjir bandang di distrik Nuwakot, Nepal, pada hari Rabu. (Niranjan Shrestha/AP)

RADARSITUBONDO.ID - Banjir dahsyat yang melanda Nepal pada 26 Agustus 2026 ternyata tidak dipicu gempa bumi seperti dugaan awal. Analisis U.S. Geological Survey (USGS) menunjukkan sinyal seismik yang semula diklasifikasikan sebagai gempa berasal dari runtuhan es dan batu di kawasan Himalaya, yang kemudian berubah menjadi aliran material dan banjir bandang mematikan.

Peristiwa tersebut menjadi awal dari rangkaian bencana yang bergerak cepat melalui kawasan pegunungan Nepal hingga wilayah hilir. Hingga 2 September, Reuters melaporkan sedikitnya 1.114 orang tewas dan hampir 4.000 lainnya masih belum ditemukan.

Sinyal yang dikira gempa ternyata berasal dari runtuhan

Pada pagi 26 Agustus, sistem pemantauan seismik mendeteksi sebuah peristiwa yang pada awalnya dilaporkan sebagai gempa bermagnitudo 4,4.

USGS kemudian melakukan analisis tambahan menggunakan data dari stasiun seismik di sekitar lokasi, gelombang seismik periode panjang, serta citra satelit. Hasilnya mengubah klasifikasi peristiwa tersebut.

Baca Juga: Banjir Dahsyat Nepal Tewaskan 1.114 Orang, Ratusan Pekerja Belum Ditemukan

USGS mencatat peristiwa itu sebagai landslide atau longsoran dengan energi setara magnitudo 5,2. Lembaga tersebut menyatakan energi seismik yang terekam justru dihasilkan oleh runtuhan gletser dan aliran debris, bukan gempa tektonik.

Dengan kata lain, bukan gempa yang menyebabkan longsoran besar. Longsoran itulah yang menghasilkan sinyal seismik yang sempat terbaca sebagai gempa.

Temuan tersebut penting karena mengubah pemahaman mengenai urutan kejadian yang memicu bencana.

Runtuhan es dan batu jatuh dari ketinggian

Penyelidikan awal menunjukkan peristiwa bermula di kawasan pegunungan dekat perbatasan Nepal dan China.

Analisis citra satelit yang ditinjau Reuters memperlihatkan bagian bawah sebuah gletser di sekitar 5.200 meter di atas permukaan laut runtuh dan jatuh sekitar 1.200 meter menuju dasar lembah. Material yang jatuh tidak hanya terdiri atas es, tetapi juga membawa batuan dan sedimen dalam jumlah besar.

Badan Nepal National Disaster Risk Reduction and Management Authority menyebut peristiwa awal tersebut sebagai ice-rock avalanche, atau longsoran yang melibatkan es dan batu.

USGS sendiri menggunakan formulasi yang lebih hati-hati. Hingga pembaruan 28 Agustus, lembaga tersebut menyatakan masih belum dapat memastikan apakah kejadian awal merupakan longsoran yang membawa bagian gletser atau keruntuhan gletser secara langsung.

Karena itu, menyebut penyebabnya sebagai "gletser mencair lalu menyebabkan banjir" terlalu sederhana. Mekanismenya jauh lebih kompleks.

Es, batu dan air berubah menjadi gelombang penghancur

Ketika massa es dan batu jatuh ke lembah, material tersebut masuk ke sistem sungai dan membawa air, sedimen serta bongkahan batu dalam jumlah sangat besar.

ICIMOD melaporkan aliran kemudian bergerak melalui sistem Lende Khola, Bhote Koshi dan Trishuli, membawa air, sedimentasi dan bongkahan batu ke wilayah hilir. Pemantauan hidrologi menunjukkan betapa cepatnya gelombang tersebut bergerak. Di kawasan Galchhi, muka air Sungai Trishuli dilaporkan naik hingga 9 meter dalam waktu sekitar 30 menit.

USGS memperkirakan debris flow dan banjir yang dipicu runtuhan tersebut bergerak hampir 100 kilometer dan berdampak pada kawasan berpenduduk, termasuk wilayah sekitar pos perbatasan Rasuwagadhi.

Besarnya gelombang bukan hanya berasal dari air. Material longsoran ikut mengubahnya menjadi aliran yang membawa batu dan lumpur, sehingga daya rusaknya jauh lebih besar dibanding banjir biasa.

Ada kemungkinan sungai sempat terbendung

Para ilmuwan juga masih menyelidiki kemungkinan adanya mekanisme tambahan yang memperparah banjir.

AP melaporkan bukti awal menunjukkan volume es dan batu yang jatuh ke Lhende Khola, anak sungai Bhote Koshi, mungkin sempat menghambat aliran sungai. Air yang tertahan kemudian berpotensi terlepas secara mendadak dan memperbesar gelombang banjir ke arah hilir.

Namun, bagian ini belum dapat disebut sebagai kesimpulan final. Peneliti masih merekonstruksi urutan kejadian menggunakan citra satelit dan data lapangan untuk mengetahui seberapa besar peran penyumbatan sungai tersebut terhadap peningkatan volume serta kecepatan gelombang.

Artinya, mekanisme dasarnya sudah semakin jelas, tetapi detail bagaimana setiap tahap saling memperkuat masih diteliti.

Mengapa bisa menghasilkan energi seperti gempa M5,2?

Runtuhan massa besar dari ketinggian dapat menghasilkan energi yang sangat besar ketika menghantam permukaan dan mendorong material lain bergerak.

USGS menghitung peristiwa awal tersebut menghasilkan energi seismik yang setara dengan magnitudo 5,2. Tetapi angka itu tidak berarti Nepal mengalami gempa tektonik M5,2. Klasifikasi resmi USGS justru mencatatnya sebagai landslide.

Sekitar tiga jam setelah kejadian pertama, USGS juga mencatat peristiwa longsoran kedua dengan energi setara sekitar M4,2.

Pembedaan ini penting karena magnitudo menggambarkan energi yang dilepaskan dan terdeteksi secara seismik, sementara sumber energinya bisa berbeda. Dalam kasus Nepal, sumbernya adalah gerakan massa es, batuan dan debris.

Apakah perubahan iklim menjadi penyebabnya?

Pertanyaan berikutnya adalah apakah pemanasan global menyebabkan bencana tersebut. Jawabannya belum sesederhana "ya".

Reuters melaporkan para ilmuwan menilai perubahan iklim dapat meningkatkan kondisi yang membuat batuan dan es di pegunungan tinggi menjadi lebih tidak stabil. Pemanasan dapat mengurangi penopang es pada lereng curam, mempercepat pencairan, serta mengubah pola pembekuan, pencairan dan curah hujan.

Namun, para ilmuwan juga mengingatkan bahwa belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan perubahan iklim sebagai pemicu langsung runtuhan pada 26 Agustus.

AP mencatat para peneliti masih berhati-hati menghubungkan peristiwa spesifik tersebut secara langsung dengan pemanasan global. Yang lebih kuat saat ini adalah kesimpulan bahwa kondisi Himalaya yang semakin hangat dapat meningkatkan kerentanan terhadap rangkaian bahaya seperti longsoran, runtuhan gletser, debris flow dan banjir bandang.

Himalaya sedang menghadapi risiko yang semakin kompleks

Kawasan Hindu Kush Himalaya mengalami perubahan pada gletser, lapisan salju, permafrost dan lereng pegunungan akibat kenaikan suhu.

Saat gletser mundur, batuan yang sebelumnya terlindungi dan ditopang oleh es menjadi lebih terbuka terhadap pemanasan, hujan dan siklus pembekuan-pencairan. Kondisi tersebut dapat melemahkan lereng dan meningkatkan peluang material bergerak turun.

Masalahnya, satu kejadian dapat memicu kejadian lain. Sebuah runtuhan dapat masuk ke sungai, menghasilkan debris flow, membendung aliran, kemudian menciptakan gelombang banjir yang jauh lebih besar. Inilah yang oleh para ilmuwan disebut sebagai compound atau cascading hazard, yakni rangkaian beberapa bahaya yang saling memperkuat.

Peringatan dini menjadi tantangan besar

Kecepatan kejadian juga memperlihatkan kelemahan sistem peringatan di kawasan pegunungan. ICIMOD mencatat muka air Sungai Trishuli dapat meningkat hingga sembilan meter dalam 30 menit. Dalam kondisi seperti itu, waktu untuk mengambil keputusan dan melakukan evakuasi sangat terbatas.

AP mencatat para ilmuwan memperingatkan bahwa di beberapa skenario bencana pegunungan, masyarakat mungkin hanya memiliki waktu beberapa menit, bukan beberapa jam, untuk bereaksi. Karena itu, pemantauan gletser, lereng, sungai serta pertukaran informasi lintas batas menjadi semakin penting.

Bencana ini masih menyisakan persoalan besar

Dampak rangkaian bencana tersebut sangat luas. UNDP memperkirakan sekitar 2,2 juta ton debris berada di wilayah yang dianalisis. Sebanyak 11 pembangkit listrik tenaga air dan satu pembangkit surya dengan total kapasitas 431,1 megawatt berhenti beroperasi.

Reuters pada 2 September melaporkan sedikitnya 1.114 orang meninggal dan hampir 4.000 lainnya masih hilang di Nepal. Di antara lokasi yang menjadi perhatian utama adalah terowongan pembangkit listrik tenaga air, tempat ratusan orang masih dicari.

Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman di Himalaya tidak selalu datang dalam bentuk gempa atau banjir monsun biasa.

Dalam kasus Nepal, sebuah runtuhan es dan batu di ketinggian memicu rangkaian peristiwa yang kemudian bergerak puluhan hingga hampir seratus kilometer ke hilir. Dan yang semula terbaca sebagai gempa ternyata adalah jejak seismik dari gunung yang runtuh.

Editor : Agung Sedana
banjir bandang nepal