Radarsitubondo.id - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance angkat bicara mengenai laporan serangan udara yang menghantam sebuah pesta pernikahan di wilayah selatan Iran.
Vance mengatakan pemerintah Amerika Serikat sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam insiden tersebut. Ia sekaligus menegaskan bahwa militer AS tidak pernah memiliki kebijakan untuk sengaja menjadikan warga sipil sebagai sasaran operasi.
Pernyataan itu muncul setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa sebuah serangan udara yang dikaitkan dengan Amerika Serikat menghantam perayaan pernikahan di Desa Kuhestak, Sirik, Iran bagian selatan.
Baca Juga: Pesta Pernikahan Berubah Jadi Maut! 4 Orang Tewas, Iran Ancam Balas Serangan AS
Namun, Vance mengaku belum dapat memastikan siapa yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban dalam insiden tersebut.
Menurut otoritas Iran, serangan yang terjadi pada Selasa malam itu menewaskan sedikitnya lima orang.
Salah satu korban dilaporkan merupakan seorang anak berusia empat tahun. Selain korban meninggal dunia, hampir 70 orang lainnya mengalami luka-luka.
Iran juga menyebut rentetan serangan Amerika Serikat sejak akhir pekan lalu telah menyebabkan total 19 orang meninggal dunia.
Baca Juga: Kumpulan Soal OMI 2026 MI Terbaru dan Jawaban, Matematika serta IPAS! Level Kesulitan Lanjutan
Angka korban tersebut menjadi perhatian besar karena salah satu insiden dilaporkan terjadi ketika warga sedang menghadiri sebuah pesta pernikahan.
Vance mengatakan pihaknya telah menerima laporan awal mengenai penyelidikan insiden tersebut. Namun, proses pengumpulan informasi masih berlangsung sehingga belum dapat ditarik kesimpulan mengenai penyebab pasti tragedi.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pemerintah sedang memeriksa sejumlah kemungkinan.
Salah satu skenario yang tengah dikaji adalah kemungkinan serangan langsung dari militer AS. Namun, penyelidikan juga mempertimbangkan kemungkinan lain, termasuk rudal pertahanan udara Iran yang memantul atau jatuh kembali, serta rudal pencegat yang meleset dari sasaran.
Dengan demikian, Washington belum mengonfirmasi bahwa serangan terhadap pesta pernikahan tersebut merupakan akibat langsung dari operasi militer Amerika.
Baca Juga: Persib Bandung Hadapi Grup Berat di ACL Two 2026/2027, Umuh Muchtar Tetap Bidik Juara
Dalam pernyataannya, Vance juga menyoroti perbedaan antara militer Amerika Serikat dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Ia menyatakan pasukan AS berupaya mengevaluasi dan belajar dari kesalahan apabila sebuah operasi menyebabkan insiden yang tidak diinginkan.
Vance mengakui bahwa dalam operasi militer, korban sipil terkadang dapat terjadi. Namun, ia menekankan bahwa warga sipil bukanlah sasaran yang sengaja dituju oleh pasukan Amerika.
Pernyataan tersebut menjadi respons Washington terhadap tudingan Iran yang mengaitkan serangan di pesta pernikahan dengan operasi udara Amerika Serikat.
Baca Juga: Soal OMI Sains 2026 MI Terbaru, 60 Latihan Matematika dan IPAS Lengkap dengan Jawaban
Hingga penyelidikan menghasilkan bukti yang lebih jelas, penyebab sebenarnya dari jatuhnya korban di Desa Kuhestak masih menjadi tanda tanya.
Di satu sisi, Iran menyebut serangan udara tersebut menewaskan warga yang tengah menghadiri pesta pernikahan. Di sisi lain, Amerika Serikat belum mengakui bahwa pasukannya bertanggung jawab atas serangan tersebut dan masih memeriksa sejumlah kemungkinan.
Kasus ini berpotensi semakin memperkeruh hubungan Iran dan Amerika Serikat, terutama di tengah meningkatnya intensitas serangan militer kedua negara.
Jika penyelidikan nantinya membuktikan bahwa serangan memang berasal dari operasi AS, insiden tersebut dapat menjadi persoalan serius karena melibatkan korban sipil. Sebaliknya, apabila penyebabnya berasal dari sistem pertahanan Iran atau rudal pencegat yang gagal mencapai sasaran, narasi mengenai siapa yang bertanggung jawab tentu akan berubah.
Untuk saat ini, Washington masih menunggu hasil penyelidikan sebelum mengambil kesimpulan mengenai tragedi yang menewaskan sedikitnya lima orang tersebut.(*)
Editor : Titin Wulandari