Radarsitubondo.id - Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengambil langkah keras terhadap produk drone buatan luar negeri. Washington kini memberlakukan tarif impor hingga 100 persen untuk drone asing, kebijakan yang secara langsung memberi tekanan besar kepada produsen asal China yang selama ini mendominasi pasar drone Amerika.
Kebijakan tersebut ditetapkan melalui proklamasi berdasarkan Section 232, aturan perdagangan yang sebelumnya banyak digunakan pemerintah AS untuk menangani persoalan terkait impor baja dan aluminium.
Penerapan tarif tinggi ini menjadi bagian dari strategi Washington untuk memperkuat industri drone dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan Amerika Serikat terhadap rantai pasok dari China.
Baca Juga: Raditya Dika Tertahan di Doha, Pesawat Putar Balik Gegara Erupsi Anak Krakatau
Kebijakan tarif terbaru tersebut tidak berdiri sendiri. Gedung Putih sebelumnya telah mengeluarkan perintah eksekutif yang bertujuan mendorong pembangunan kembali industri drone domestik.
Dalam kebijakan tersebut, pemerintah AS juga menyusun kerangka untuk mengidentifikasi entitas asing yang dianggap perlu mendapatkan pengawasan. Selain itu, terdapat mandat yang melibatkan sejumlah lembaga pemerintah dalam memperkuat keamanan rantai pasok teknologi drone.
Langkah ini menunjukkan bahwa Washington tidak hanya menggunakan tarif sebagai instrumen perdagangan, tetapi juga mengarah pada strategi jangka panjang untuk membangun kapasitas produksi drone di Amerika Serikat.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar, Warga Tangerang Serbu Masker hingga Antre Mengular
Kebijakan tersebut tidak terlepas dari kekhawatiran pemerintah Amerika terhadap dominasi perusahaan China, terutama DJI dan Autel Robotics.
Perhatian Washington terhadap kedua perusahaan itu sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pada 2017, Angkatan Darat AS melarang penggunaan drone buatan DJI dan Autel setelah muncul kekhawatiran mengenai potensi kerentanan keamanan.
Dominasi kedua produsen tersebut juga cukup besar. DJI dan Autel Robotics disebut menguasai hampir 90 persen pasar drone komersial di Amerika Serikat.
Ketergantungan tidak hanya terjadi pada produk drone jadi. Sejumlah komponen penting dalam ekosistem drone, mulai dari baterai, perangkat lunak penerbangan hingga giroskop, juga memiliki keterkaitan dengan rantai pasok China.
Selain tarif impor, Kementerian Perdagangan AS mendapatkan kewenangan untuk membangun program onshoring. Program tersebut ditujukan untuk mendorong investasi baru dalam sektor manufaktur drone serta produksi berbagai komponennya di dalam negeri.
Kebijakan ini mencerminkan pola industrialisasi strategis yang mulai digunakan Amerika Serikat untuk sektor teknologi yang dianggap penting bagi kepentingan ekonomi maupun keamanan nasional.
Baca Juga: Likuiditas Aman, Kredit Ngebut: BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun
Instrumennya tidak hanya berupa kenaikan tarif. Pemerintah juga dapat mengombinasikannya dengan kebijakan pengadaan, preferensi terhadap produk domestik, serta insentif yang mendorong penggunaan komponen buatan Amerika.
Penerapan tarif drone tersebut berlangsung ketika hubungan perdagangan dan teknologi antara Amerika Serikat dan China masih menghadapi ketegangan.
China sebelumnya telah menerapkan pembatasan terhadap ekspor drone serta sejumlah teknologi dwiguna yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer. Langkah Beijing tersebut menjadi salah satu respons terhadap berbagai kebijakan perdagangan yang lebih dahulu diterapkan Washington.
Baca Juga: Start Buruk Fiorentina, Fabio Grosso Resmi Dipecat Setelah Tiga Laga Alami Kekalahan
Dengan adanya tarif baru dan rangkaian perintah eksekutif, kebijakan AS terhadap industri drone asing berpotensi bukan sekadar langkah sementara.
Pemerintah Amerika telah membangun sejumlah mekanisme lintas lembaga yang dapat membuat kebijakan tersebut berjalan dalam jangka panjang. Jika tren ini berlanjut, persaingan Amerika Serikat dan China di sektor drone tidak hanya akan menentukan harga produk di pasar, tetapi juga dapat memengaruhi arah rantai pasok dan industri drone global.(*)
Editor : Titin Wulandari