Meta Batalkan PHK Gelombang Kedua, Ambisi AI Mark Zuckerberg Ternyata Tak Sesuai Harapan

Titin Wulandari • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 12:00 WIB
MARK ZUCKERBERG : Meta membatalkan PHK gelombang kedua dalam Project OT setelah performa AI tidak sesuai harapan.(Instagram:@zuck)
MARK ZUCKERBERG : Meta membatalkan PHK gelombang kedua dalam Project OT setelah performa AI tidak sesuai harapan.(Instagram:@zuck)

Radarsitubondo.id - Rencana transformasi besar-besaran di tubuh Meta yang digagas CEO Mark Zuckerberg menghadapi perubahan arah. Program bernama Project OT (Organization Transformation) yang disiapkan untuk menyesuaikan struktur kerja perusahaan dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak sepenuhnya berjalan sesuai skenario awal.

Project OT dirancang sebagai upaya Meta melakukan perubahan besar terhadap pola kerja perusahaan. Salah satu bagian dari rencana tersebut adalah menekan biaya melalui pengurangan tenaga kerja sekaligus mengalihkan sejumlah tugas karyawan ke peran yang berkaitan dengan teknologi AI.

Dalam skenario paling ekstrem, restrukturisasi itu bahkan berpotensi membuat jumlah anggota di sejumlah tim berkurang hingga 60 persen.

Baca Juga: Nicolas Cage Buka Suara soal Spider-Noir Dibatalkan, Meski Cuma 1 Musim Tetap Puas dengan Hasilnya

Rencana transformasi tersebut pada awalnya disusun dalam dua tahap. Gelombang pertama telah direalisasikan pada Mei.

Dalam tahap tersebut, Meta disebut memangkas sekitar 10 persen dari total tenaga kerjanya, atau setara dengan sekitar 8.000 karyawan. Pada saat yang sama, hampir 7.000 pekerja lainnya dialihkan ke posisi yang berhubungan dengan AI.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Meta menyesuaikan organisasi dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin menjadi fokus perusahaan.

Baca Juga: Gara-Gara Abu Vulkanik, Harga Masker Mendadak Meledak Naik 2 Kali Lipat!

Namun, tahap kedua yang semula direncanakan berlangsung pada November akhirnya tidak diteruskan.

Keputusan membatalkan gelombang kedua disebut berkaitan dengan hasil pengembangan perangkat AI internal Meta yang belum memenuhi target yang diharapkan.

Berdasarkan data internal yang dikutip dalam laporan Reuters, perubahan kode pada platform dan infrastruktur AI Meta mengalami peningkatan hingga 220 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Akan tetapi, peningkatan tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan fitur yang benar-benar berhasil diterapkan dan digunakan oleh pengguna. Jumlah fitur yang sampai kepada pengguna hanya meningkat sekitar 36 persen.

Perbedaan yang cukup jauh antara aktivitas pengembangan dan hasil yang dirasakan pengguna tersebut menjadi salah satu persoalan dalam ambisi transformasi AI Meta.

Baca Juga: Bikin Melongo! Ustaz Riza Muhammad Ungkap Punya 50 Pekerja di Rumah, 30 Orang Jadi ART

Tantangan Meta tidak berhenti pada persoalan produktivitas. Penerapan agen AI dalam skala besar juga disebut diikuti peningkatan berbagai insiden teknis dan keamanan.

Kondisi tersebut kemudian menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja Meta. Sejumlah karyawan bahkan menyampaikan protes karena khawatir pekerjaan mereka justru digunakan untuk melatih teknologi yang pada akhirnya berpotensi mengambil alih pekerjaan manusia.

Situasi tersebut memperlihatkan adanya dilema dalam proses transformasi perusahaan berbasis AI. Di satu sisi, teknologi diharapkan meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi di sisi lain penerapannya dapat memunculkan ketidakpastian bagi tenaga kerja.

Baca Juga: Terungkap! Ini Pemicu Mahendra Diduga Bunuh Mozza hingga Jasadnya Ditemukan Tinggal Kerangka

Meta memberikan penjelasan berbeda mengenai Project OT. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyebut program tersebut pada dasarnya merupakan latihan perencanaan skenario.

Latihan tersebut digunakan untuk memperkirakan berbagai kemungkinan dampak dari perubahan organisasi, termasuk pengalihan pekerjaan, penutupan posisi yang masih kosong, hingga kemungkinan pengurangan jumlah karyawan.

Dengan tidak dilanjutkannya gelombang kedua, rencana restrukturisasi Meta pun mengalami perubahan dari skenario awal.

Perkembangan ini sekaligus menjadi indikasi bahwa transformasi perusahaan berbasis kecerdasan buatan yang didorong Mark Zuckerberg masih menghadapi sejumlah tantangan. Besarnya investasi dan perubahan sistem kerja belum otomatis menghasilkan peningkatan produktivitas AI sesuai dengan target yang diharapkan.(*)

Editor : Titin Wulandari
teknologi AI Meta PHK Meta AI Mark Zuckerberg Meta