RADARSITUBONDO.ID - Donald Trump kembali membuat pernyataan mengenai masa depan wilayah yang berada di bawah kedaulatan negara lain.
Kali ini, Presiden Amerika Serikat tersebut menyatakan keinginannya untuk melihat Irlandia dan Irlandia Utara bersatu.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat melakukan kunjungan selama dua hari ke Irlandia. Dalam agenda tersebut, Trump pada Sabtu (12/9) mengungkapkan keinginannya terkait penyatuan Irlandia dan Irlandia Utara.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari Inggris. Sejumlah tokoh politik Inggris menilai ucapan Trump tidak tepat, terutama karena Irlandia Utara hingga kini merupakan bagian dari Britania Raya.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Gelombang Laut hingga 4 Meter pada 14-17 September, Ini Wilayah yang Berisiko
Salah satu penolakan datang dari pemimpin Partai Konservatif Inggris Kemi Badenoch. Dia menyebut Trump kembali mengeluarkan pernyataan yang dinilai tidak dipertimbangkan secara matang.
"Seperti biasa, Presiden Trump berbicara tanpa pertimbangan, sama seperti yang dia lakukan terkait Greenland dan Kanada yang ingin dia jadikan sebagai negara bagian ke-51," kata Kemi Badenoch di platform X pada Sabtu.
Badenoch sekaligus menegaskan posisi Irlandia Utara dalam konstitusi Britania Raya. Pernyataannya menunjukkan bahwa isu mengenai status wilayah tersebut masih menjadi persoalan sensitif dalam hubungan politik Inggris dan Irlandia.
Penolakan serupa disampaikan pemimpin Partai Reformasi Inggris Nigel Farage. Dia secara terbuka menyatakan tidak sepakat dengan keinginan Trump mengenai penyatuan Irlandia dan Irlandia Utara.
"Saya tidak setuju dengan Presiden Trump. Irlandia Utara adalah bagian yang membanggakan dan tak terpisahkan dari Inggris," ujar Farage di X pada hari yang sama.
Pernyataan Trump tersebut kembali menempatkan isu Irlandia Utara dalam perhatian publik. Status wilayah itu memiliki sejarah politik yang panjang dan sensitif, sehingga komentar dari pemimpin negara lain dengan cepat mendapat reaksi dari Inggris.
Irlandia Utara merupakan salah satu bagian konstituen Britania Raya, sementara Republik Irlandia merupakan negara berdaulat yang berada di pulau yang sama.
Karena itu, gagasan mengenai penyatuan keduanya bukan sekadar persoalan geografis, tetapi berkaitan dengan identitas politik dan status konstitusional.
Baca Juga: Basarnas Ungkap Posisi KM Virgo Transport 8 Bergeser 1,6 Mil, 129 Orang Masih Dicari
Dalam konteks tersebut, komentar Trump memicu respons keras dari politisi Inggris. Badenoch dan Farage sama-sama menegaskan bahwa posisi Irlandia Utara sebagai bagian dari Inggris tidak dapat begitu saja diabaikan.
Trump sendiri menyampaikan keinginannya mengenai penyatuan tersebut ketika berada di Irlandia. Pernyataan itu menjadi sorotan karena menyentuh isu yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam dinamika politik di kawasan tersebut.
Respons dari dua tokoh politik Inggris itu memperlihatkan adanya perbedaan pandangan yang tegas terhadap pernyataan Presiden AS.
Kritik Badenoch menyoroti pola Trump dalam menyampaikan gagasan mengenai wilayah dan negara lain, sedangkan Farage menekankan identitas Irlandia Utara sebagai bagian dari Inggris.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber