AS-Iran Kembali Bahas Upaya Akhiri Konflik Timur Tengah Lewat Mediator

Bayu Shaputra • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 14:23 WIB
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026.  (Jawapos)
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. (Jawapos)

 

RADARSITUBONDO.ID - AS dan Iran kembali membuka jalur pembicaraan untuk mencari jalan keluar dari konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Upaya diplomasi itu dilakukan secara terpisah dengan melibatkan negara-negara yang berperan sebagai mediator.

Pembahasan terbaru tersebut menjadi perkembangan penting setelah Iran sebelumnya mengajukan rencana tujuh hari untuk meredakan ketegangan.

Rencana itu kemudian menjadi salah satu bahan yang kembali dibicarakan dalam kontak diplomatik antara kedua pihak.

Baca Juga: MagangHub 2026 Tahap 3 Segera Dibuka, Ini Syarat dan Persiapan Fresh Graduate

Menurut laporan Reuters yang mengutip sumber dari kedua pihak, pembicaraan lanjutan diperkirakan akan menitikberatkan pada amandemen terhadap rencana tujuh hari yang diajukan Iran pada pekan sebelumnya.

Namun, hingga kini belum ada rincian mengenai bentuk pembahasan maupun poin-poin apa saja yang menjadi materi negosiasi. Kontak tersebut juga berlangsung melalui jalur mediator, bukan dalam format perundingan langsung antara Washington dan Teheran.

Jalur diplomasi kembali bergerak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menolak proposal Iran yang berkaitan dengan upaya menghentikan konflik dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Trump menyebut proposal tersebut tidak dapat diterima.

Meski proposal Iran ditolak, Trump kemudian menyatakan kepada Axios bahwa pembicaraan dengan Iran diperkirakan tetap berlangsung pada pekan ini.

Qatar dan sejumlah mediator regional disebut berupaya menghidupkan kembali proses negosiasi kedua negara.

Persoalan nuklir menjadi salah satu titik utama dalam pembahasan. Washington menginginkan adanya langkah konkret dari Teheran terkait program nuklirnya, sementara Iran sebelumnya menyatakan sikapnya mengenai penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Di tengah perkembangan tersebut, muncul laporan bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan kemungkinan memberikan kelonggaran ekonomi kepada Iran sebagai bagian dari kesepakatan nuklir.

Axios sebelumnya melaporkan bahwa Trump siap mempertimbangkan pelonggaran sanksi ekonomi dan akses terhadap dana Iran yang dibekukan apabila Teheran menunjukkan kemajuan konkret dalam membatasi program nuklirnya.

Baca Juga: Justin Hubner Bicara Peluang Indonesia Usai Tahan Imbang Malaysia 0-0 di FIFA ASEAN Cup 2026

Namun, laporan tersebut kemudian dibantah Trump. Presiden AS itu menegaskan bahwa dirinya tidak memberikan tawaran konsesi kepada Iran.

Perbedaan informasi tersebut menunjukkan bahwa posisi Washington dalam proses negosiasi masih belum sepenuhnya jelas. Di satu sisi, jalur pembicaraan melalui mediator kembali berjalan. Di sisi lain, Trump tetap menegaskan tuntutan terkait program nuklir Iran.

Reuters juga melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan pengecualian sanksi sementara untuk penerbangan yang membawa jamaah Syiah antara Iran dan Irak.

Langkah tersebut menjadi bagian lain dari opsi yang tengah dipertimbangkan Washington di tengah upaya meredakan ketegangan.

Sebelumnya, pembicaraan terpisah antara pihak Amerika Serikat dan Iran dengan mediator diperkirakan berlangsung pada 28 atau 29 September. Qatar menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam upaya menjembatani komunikasi kedua negara.

Iran sendiri terus menekankan jalur diplomasi sebagai salah satu cara untuk mengakhiri konflik. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pekan lalu juga menyatakan bahwa Republik Islam Iran tidak akan membuat senjata nuklir.

Pernyataan Pezeshkian tersebut muncul ketika isu program nuklir Iran kembali menjadi bagian utama dalam pembicaraan dengan Washington. Bagi Amerika Serikat, persoalan nuklir menjadi salah satu syarat penting dalam setiap pembahasan menuju kesepakatan baru.

Sementara itu, Trump sebelumnya menyampaikan optimisme mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan nuklir dengan Teheran. Pada awal September, dia mengatakan peluang Washington mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran mencapai 99,9 persen.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa jalur diplomasi memang kembali terbuka, tetapi sejumlah persoalan mendasar masih harus diselesaikan.

Rencana tujuh hari Iran menjadi salah satu materi yang kembali dibahas, sementara tuntutan Washington terkait program nuklir tetap berada di meja perundingan.

Editor : Bayu Shaputra
Sumber : ANTARA
Konflik Timur Tengah as iran