RADARSITUBONDO.ID - Pasukan terakhir Amerika Serikat (AS) resmi meninggalkan Irak. Presiden AS Donald Trump menyebut berakhirnya kehadiran militer tersebut sebagai momen penting bagi Washington setelah bertahun-tahun terlibat dalam operasi di negara tersebut.
Trump mengumumkan penarikan pasukan itu melalui Truth Social pada Rabu. Dia menyebut seluruh pasukan Amerika telah meninggalkan Irak setelah proses penarikan yang berlangsung secara bertahap.
"Hari ini, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa pasukan Amerika terakhir telah meninggalkan Irak!," kata Trump di Truth Social.
Baca Juga: Manchester City Dinyatakan Bersalah, Pep Guardiola Beri Dukungan: Kita Lewati Bersama
Penarikan tersebut sekaligus menandai berakhirnya Operasi Inherent Resolve di Irak. Operasi itu diluncurkan pada 2014 sebagai bagian dari upaya koalisi internasional yang dipimpin AS untuk memerangi kelompok militan Islamic State atau ISIS.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukan dan peralatan AS telah meninggalkan Pangkalan Udara Erbil di Irak. Kepergian dari pangkalan tersebut menjadi penanda selesainya misi Inherent Resolve di Irak.
Trump menilai perjalanan AS di Irak merupakan proses panjang. Dia juga menyinggung berbagai keputusan masa lalu yang menurutnya membuat Amerika masuk ke dalam situasi sulit.
Trump menyebut keterlibatan tersebut sebagai bagian dari sejarah AS. Namun, dia menilai berakhirnya kehadiran militer Amerika di Irak menjadi momentum yang patut dicatat.
"Ini adalah hari yang baik bagi Amerika dan, yang terpenting, kami meninggalkan Irak dengan perdana menteri baru yang luar biasa, Ali al-Zaidi," imbuhnya.
Baca Juga: 1 Oktober Bukan Hari Lahir Pancasila, Ini Perbedaan Hari Kesaktian dan Hari Lahir Pancasila
Trump juga menyoroti biaya besar yang harus dikeluarkan Amerika selama menjalankan operasi militer di Irak. Dia menyebut kampanye tersebut sebagai operasi yang sangat mahal.
Di sisi lain, Trump menekankan bahwa proses penarikan pasukan dari Irak berlangsung secara tertib. Dia membandingkannya dengan penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada 2021, yang berlangsung pada masa pemerintahan Joe Biden.
"Kami benar-benar keluar dari sana," kata Trump dalam sebuah acara di Gedung Putih.
Berakhirnya misi militer AS tidak serta-merta berarti Washington memutus seluruh kerja sama dengan Baghdad.
Hubungan kedua negara kini diarahkan menuju kerja sama pertahanan bilateral, sementara dukungan Amerika terhadap Irak tetap dilakukan dalam bentuk tertentu.
Pentagon sebelumnya menyatakan bahwa misi militer koalisi di Irak telah berakhir setelah pasukan dan peralatan ditarik dari Erbil Air Base. Operasi Inherent Resolve yang selama ini berfokus pada perang melawan ISIS di Irak memasuki fase baru.
Baca Juga: Kode Redeem Free Fire 1 Oktober 2026, Klaim Skin M1887 dan Diamond Gratis
Tanggung jawab utama terhadap keamanan Irak kini berada di tangan pasukan dan institusi keamanan negara tersebut. Amerika masih mempertahankan dukungan terbatas, termasuk kerja sama pelatihan dan pertukaran informasi intelijen.
Sementara itu, misi koalisi untuk menghadapi ancaman ISIS belum sepenuhnya berhenti di kawasan.
CENTCOM menyebut Combined Joint Task Force–Operation Inherent Resolve kini berkedudukan di Yordania dan tetap menjalankan misi melawan ISIS di Suriah bersama mitra koalisi.
Editor : Bayu ShaputraSumber : ANTARA