Iran Buka Opsi Damai, Internet Nasional Masih Padam

Agung Sedana • Dipublikasikan Selasa, 3 November 2026 | 14:38 WIB
Ilustrasi mediasi.
Ilustrasi negosiasi.

RADARSITUBONDO.ID - Di tengah bayang-bayang serangan udara Amerika Serikat ke Pulau Qeshm, secercah harapan diplomasi mulai terlihat dari pembicaraan di Doha. Pada 2 November 2026, Iran memaparkan rancangan kesepakatan baru dengan AS yang dipadatkan menjadi jadwal waktu dua hari. Sinyal positif dari perundingan ini secara instan meredakan kepanikan pasar energi global, membuat harga minyak dunia anjlok tajam.

Syarat Proposal Damai: Cabut Sanksi untuk Buka Selat Hormuz

Rencana kesepakatan dua hari ini merupakan versi ringkas dari proposal tujuh langkah yang sebelumnya diajukan oleh Teheran. Dalam skema terbaru ini, Iran memberikan syarat yang jelas bagi Washington: AS diharuskan segera mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memberikan pengecualian (waiver) khusus untuk penjualan minyak Iran, serta membatalkan sanksi-sanksi baru yang telah dijatuhkan.

Baca Juga: AS Gempur Radar dan Fasilitas Rudal Iran di Selat Hormuz, Harga Minyak Sempat Menggila

Sebagai imbalan dari langkah AS tersebut, Iran berkomitmen untuk membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz, yang nantinya akan diikuti oleh negosiasi lanjutan terkait isu-isu geopolitik lainnya.

Optimisme akan prospek diakhirinya perang yang telah berlangsung selama delapan bulan ini direspons sangat positif oleh pasar. Harga minyak mentah dunia tercatat merosot lebih dari 7 persen pada hari Senin (2/11/2026) menyusul adanya harapan perdamaian tersebut.

Serangan Houthi di Yaman dan Pemadaman Internet Terpanjang

Meskipun perundingan tingkat tinggi menunjukkan kemajuan, eskalasi di lapangan akibat konflik proksi ini masih memakan korban jiwa. Pada Senin malam waktu setempat, sebuah rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi Houthi sokongan Iran menghantam Pusat Kesehatan Al-Saqiyah di distrik Al-Mudaribah, Provinsi Lahj, Yaman.

Militer Yaman dan Kementerian Kesehatan setempat melaporkan serangan fatal tersebut menewaskan lima orang dan melukai 15 lainnya, yang di antaranya merupakan tenaga medis.

Sementara itu, di dalam negeri Iran, krisis kebebasan informasi terus berlanjut. Organisasi pemantau jaringan global, NetBlocks, mencatat bahwa pemadaman internet yang diberlakukan oleh otoritas Teheran tak lama sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari 2026 kini berstatus sebagai pemadaman internet nasional terpanjang dalam sejarah.

Editor : Agung Sedana
amerika serang iran