RadarSitubondo.id - Tangis haru keluarga Abdur, 65, warga Desa Tanjung Pecinan, Kecamatan Mangaran tak bisa dibendung.
Sebab, nelayan yang dikabarkan hilang selama satu hari satu malam kembali ke rumah dalam keadaan selamat.
Meskipun saat di tengah laut hanya bertahan hidup dengan meminum air kemasan saja.
Abdur sebenarnya sudah bermaksud pulang pada hari Senin (15/01) sekitar pukul 14.00.
Tapi, takdir tidak mengizinkannya. Saat putar arah, baling-baling perahu bagian kana patah. Akhirnya laju perahu tidak maksimal saat melawan arus.
Tak cukup di situ, begitu terlampaui setengah perjalanan, perahu Abdur malah kehabisan BBM.
Saat itulah pikiran Abdur mulai tidak karuan. Dia ketakutan jika tidak bisa pulang.
Akhirnya Abdur menarik layar perahu tersebut untuk bisa sampai ke pantai.
Namun, perahu terombang-ambing di tengah laut mengikuti arus dan hembusan angin. Bukannya ke pinggir tapi malah ke tengah laut.
Saat matahari mulai tenggelam, Abdur hanya bisa meneteskan air mata.
Matanya tak henti-henti melihat ke kanan dan kiri berharap ada nelayan melintas lalu menolongnya.
Tapi sayang, saat ada perahu lewat, yang dipanggil-panggil tidak mendengar.
Sebab, jaraknya cukup jauh. Ditambah matahari juga sudah tenggelam.
Malam itu, suasana di tengah laut semakin tidak menguntungkan bagi Abdur.
Turun hujan cukup deras diserati angin kencang. Besarnya ombak sempat mengancam nyawa Abdur. Apalagi air hujan juga sudah masuk ke dalam perahu.
Abdur dengan cepat mengambil langkah. Dia memilih menutup layar yang digunakan untuk menjalankan perahu ke pinggir pantai.
Karena hujan layar terpaksa ditutup agar air tidak masuk ke dalam perahu.
“Kalau layar tetap dibuka angin dan ombak tidak mendukung, air juga akan masuk ke dalam perahu. Biar perahu tidak tenggelam, cara satu-satunya harus tutup layar. Resikonya perahu ikut ombak,” kata Abdur melalui sambungan ponsel, kemarin (19/1).
Malam sudah berlalu pada hari Selasa (16/1), Abdur sudah berada di perairan Desa Ketah, Kecamatan Suboh dan langsung dibawa ke rumah warga oleh salah satu nelayan setempat.
Di situlah Abdur mendapat makan dan bisa bernafas lega.
“Alhamdulillah saat di pesisir Ketah saya ditolong warga dan saya diberi makan oleh warga setempat. Kalau di tengah laut hanya minum air saja,” imbuh Abdur.
Saat di Ketah, Abdur ingin sekali menghubungi keluarganya. Tapi dia tidak membawa ponsel.
Akhirnya dia memperbaiki baling-baling perahu yang patah dan juga mendapatkan bantuan BBM solar dari nelayan setempat.
“Ya saya pulang lewat jalur laut lagi tapi pelan-pelan. Akhirnya sampai di rumah sudah disambut tangis. Ternyata saya sudah dikabarkan hilang dan membuat keluarga saya menangis. Tapi sudah bersyukur saya bisa kumpul lagi sama keluarga,”pungkas Abdur. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono