Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Pencatut Nama Pengasuh Pesantren Nurul Huda Kapongan Berakhir Minta Maaf

Moh Humaidi Hidayatullah • Sabtu, 1 Juni 2024 | 17:37 WIB
TERBUKTI: Pengurus Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, menandatangani surat pernyataan damai di Balai Desa Kandang, Kecamatan Kapongan, Kamis malam (30/5)
TERBUKTI: Pengurus Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, menandatangani surat pernyataan damai di Balai Desa Kandang, Kecamatan Kapongan, Kamis malam (30/5)

RadarSitubondo.id – Mansur, warga Desa Kandang, Kecamatan Kapongan harus meminta maaf kepada ratusan alumni dan simpatisan Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda, Kamis malam (30/5). Itu dilakukan di Balai desa setempat.

Pria 47 tahun itu diduga sudah melakukan penipuan terhadap tetangganya mengatasnamakan pengasuh Ponpes di Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan.

Informasi yang Jawa Pos Radar Situbondo, Mansur sudah meminta uang kepada orang tua Inna yang tidak lain tetangga dekat hingga mencapai Rp 900 ribu.

Alasannya ingin membantu untuk mengeluarkan ijazah Inna yang masih tertahan di MTs Nurul Huda.

Setiap kali Mansur meminta uang, pasti beralasan ingin datang ke habib Muhammad untuk sowan.

Tapi sudah sekian minggu sejak Mansur minta uang kepada korban, belum ada hasil yang memuaskan bagi korban.

Untuk mengelabui keluarga Inna, Mansur mengarang cerita. Yaitu, menyampaikan pesan Habib Muhammad untuk meminta dua baju milik Inna yang sudah tidak terpakai. Alasannya, baju tersebut akan diproses ritualkan untuk keselamatan Inna.

Akhirnya, korban merasakan ada hal yang tidak beres atas tindakan Mansur sehingga menceritakan kepada tetanggannya. 

Cerita tersebut kemudian menyebar kepada telinga alumni Ponpes Nurul Huda. Mendapat cerita tersebut, ratusan alumni tidak menerima dan menggrebek rumah Mansur.

“Mendengar cerita dari korban sudah jelas tidak benar kelakuan Mansur. Tidak mungkin guru kami meminta-minta baju untuk dibuat ritual, ngawur si Mansur ini,” tegas salah satu alumni yang enggan namanya dikorankan.

Saat dilakukan penggerebekan, Mansur sempat tidak mengakui perbuatannya. Mansur baru mengakui setelah dipertemukan scera langsung dengan pihak korban di Balai Desa Kandang.

Dia juga langsung meminta maaf kepada ratusan alumni dan simpatisan atas perbuatannya.

“Ternyata mansur hanya meminta uang tapi uang itu tidak pernah dibuat sowan ke Habib Muhammad. Jadi dia sudah membohongi orang atas nama guru kami,” katanya.

Perbuatan Mansur tidak sampai masuk ke ranah hukum. Dia hanya diminta untuk membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Isi dalam surat pernyataan, jika Mansur melakukan hal serupa siap untuk dilakukan proses hukum.

“Tidak ada niatan bagi alumni untuk menghukum pelaku, kami hanya ingin korban mengakui perbuatannya, mengembalikan uang dan meminta maaf secara terbuka,” pungkasnya.

Kapolsek Kapongan Iptu Tegu Santoso membenarkan kasus tersebut, pihaknya juga sudah berhasil membuat korban penipuan dan pelaku untuk saling memaafkan. Begitu pun ratusan alumni yang sempat marah kepada pelaku.

“Alhamdulillah pelaku sudah meminta maaf dan juga dimaafkan oleh alumni termasuk pengurus perwakilan dari ponpes,” pungkas Tegu.

Teguh menjelaskan, soal ijazah yang dianggap tertahan sebenarnya belum pernah diminta.

Sebab, orang tua Inna takut untuk mengurusi ijazah tersbut akibat sungkan dengan pihak pesantren. Sebab Inna berhenti dari pesantren tanpa pamit. (hum/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#situbondo #Dicatut #pesantren #minta maaf #Pengasuh #Kapongan #penipuan