RADARSITUBONDO.ID – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Situbondo sejak awal Januari 2026 berdampak serius terhadap kehidupan nelayan di wilayah pesisir Kecamatan Panarukan. Selama hampir 22 hari terakhir, nelayan tidak dapat melaut secara maksimal akibat gelombang tinggi dan angin kencang.
Ketua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kampung Pesisir Panarukan, Heri Prayitno, mengatakan hampir satu bulan perahu nelayan terpaksa ditambatkan di bibir pantai karena tidak bisa melaut. Kondisi tersebut disebabkan cuaca buruk yang terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Cuaca ekstrem seperti ini sudah berlangsung sekitar 22 hari. Nelayan terpaksa tidak melaut karena faktor cuaca,” ujarnya, Rabu (28/1).
Heri menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung pada perekonomian nelayan. Dari sekitar 32 kapal selerek, hanya 17 kapal yang biasanya beroperasi dengan jumlah awak maksimal 25 orang. Sementara untuk jenis perahu jurung, tercatat hanya sekitar 10 unit. “Cuaca ekstrem ini terjadi sejak awal Januari. Kalau hitungan Jawa, diperkirakan baru akan membaik sekitar tanggal 2 Februari,” katanya.
Menurut Heri, selama cuaca buruk berlangsung, banyak anak buah kapal (ABK) terpaksa berutang kepada pemilik kapal maupun tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sebagian nelayan harus menggadaikan barang-barang rumah tangga. “Ada yang menggadaikan emas, perabot rumah tangga, bahkan sampai sarung dan daster,” bebernya.
Dia menambahkan, dalam kondisi seperti ini tidak ada pilihan lain bagi nelayan selain menggadaikan atau menjual barang berharga untuk mencukupi kebutuhan hidup. Barang-barang tersebut nantinya akan dibeli kembali ketika sudah memperoleh rezeki. “Kalau jual sarung biasa dapat Rp70 ribu, kalau yang bagus bisa sampai Rp150 ribu,” ungkapnya.
Untuk bertahan hidup, para nelayan bersama istri mereka juga mencari penghasilan alternatif dengan mencari kerang saat air laut surut. Aktivitas tersebut dilakukan sejak dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. “Jam dua malam di sini sudah seperti kota, ramai. Semua pakai senter, nelayan dan istrinya turun ke pantai mencari kerang,” katanya.
Heri menjelaskan, jika hanya untuk kebutuhan lauk sehari-hari, pencarian kerang dilakukan selama satu hingga dua jam saat laut surut. Namun, jika ditujukan untuk dijual, aktivitas tersebut bisa berlangsung dari malam hingga pagi hari sambil menunggu air laut kembali pasang. “Cuaca ekstrem yang berkepanjangan ini benar-benar menggerus ketahanan ekonomi masyarakat nelayan pesisir, seperti di Panarukan,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono