RADARSITUBONDO.ID - Puluhan siswa SDN 1 Desa Campoan, Kecamatan Mlandingan, penuh perjuangan saat menuju sekolah. Mereka harus turun dan naik sungai. Ini setelah jembatan gantung yang menghubungkan ke tempat pendidikan mereka, putus akibat diterjang banjir.
Salmanan Toni, warga Desa Mlandingan, mengaku miris melihat siswa-siswi SDN 1 Campoan yang tia hari harus menyeberang sungai akibat tidak memiliki jembatan. Bahkan mereka sudah satu tahun lebih melewati sungai yang cukup ekstrem.
“Saya tiap hari melihat anak SD harus nyeberang sungai. Agar sepatu tidak basah harus dibuka saat menyebarang. Itu sudah menjadi pemandangan setiap pagi,” ungkap Salman pada RadarSitubondo.id, Minggu (28/2).
Dikatakan, selain akses pendidikan, jembatan gantung menjadi akses satu-satunya bagi warga sekitar. Warga yang mau ke pasar pasti melalui jembatan. Berhubung jembatan sudah putus semua warga terpakas harus turun dan naik sungai.
“Jembatan gantung benar-benar sangat dibutuhkan oleh warga, terutama saat ada orang yang sakit, apalagi seorang ibu rumah tangga yang mau melahirkan. Sangat sulit,” tandasnya.
Salman menerangkan, jembatan gantung sudah mengalami kerusakjan sejak tahun 2024 akibat banjir bandang. Di tahun 2025 Jembatan bukan lagi rusak tapi putus akibat banjir yang ke sekian kalinya.
“Lima tahun lalu jembatan sudah dibangun, tapi bukan dari dana pemerintah melaikan dari CSR salah satu PT. Tapi akibat diterjang banjir menjadi putus,” katanya.
Sebenarnya, untuk memperbaiki jembatan tersebut tidak membutuhkan uang yang sangat besar. Sebab jembatan masih utuh. Hanya saja penyangganya sudah dihanyut banjir. Pondasi juga mengalami kerusakan.
“Dulu habis uang Rp 259 jutaan, mungkin saat ini kalau diperbaiki hanya butuh uang Rp 150 jutaan. Tapi ya saya tidak tahu secara pasti, ini hanya perkiraan saja,” tegasnya.
Mewakili warga setempat, Salman sangat berharap agar jembatan gantung bisa diprioritaskan. Sebab sudah lebih satu tahun rusak namun tak kunjung diperbaiki.
Sebenarnya sudak berkali-kali ditinjau oleh pemerintah, namun belum ada kepastian untuk pembangunannya.
“Sejauh ini sudah ada peninjauan dari lintas sektor, tapi belum ada perbaikan,” tutup Salman. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono