RADARSITUBONDO.ID - Sementara itu Hairul dan Fathor Rosi, putra Wati nekat membongkar makam nenek moyangnya. Harapannya agar jenszah tersebut bisa bersaksi atas kepemilikan tanah yang dieksekusi tersebut.
Hairul tak bisa tinggal diam melihat ibu dan bapaknya yang melakukan perlawanan terhadap penggusuran rumah. Pria berumur 23 tahun itu juga juga aktif memukul mundur alat berat yang menggusur rumahnya.
“Saya rela mati membela hak saya. Apalagi ibu saya ini membangun rumah dengan jerih payahnya. Ibu saya bangun rumah bukan hasil jual diri, tapi bekerja keras,” tutur Hairul sambil memegang alat berat agar tidak beroperasi.
Aksi Hairul yang membahayakan langsung diamankan oleh anggota polres yang melakukan penjagaan. Hairul digotong agar menjauh dari area eksekusi.
Hairul yang sudah tidak berdaya langsung mengambil cangkul. Bukan untuk melawan anggota polres. Tapi pergi ke kubur untuk mengeluarkan jenazah nenek moyangnya.
“Jenazah mbah saya harus digali dan dipindah ke rumah saya,” kata Hairul sambil mencangkul kubur.
Fathor Rosi kakak kandung Hairul juga ikut menggali kuburan nenek moyangnya. Dua bersaudara tersebut tampak menggali kubur sambil menangis meratapi nasib. “Kalau orang miskin kenapa dibeginikan. Kami terdolimi,” kata Fathor.
Pantuan Jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo, aksi penggalian kubur tak sampai selesai. Sebab warga sekitar berhasil membujuk Fathor Rosi dan Hairul agar tidak mengeluarkan jenazah. Akhirnya keduanya dievakuasi ke rumah warga untuk menenangkan pikiran. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono