RADARSITUBONDO.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo mencatat sejak Januari 2026 hingga saat ini telah terjadi 17 kasus kebakaran. Jumlah tersebut dinilai cukup tinggi, mengingat dalam tiga bulan terakhir masih berada pada musim penghujan.
Memasuki triwulan pertama tahun 2026, angka kebakaran permukiman di Kota Santri masih tergolong tinggi. Sebagian besar disebabkan korsleting listrik dan kelalaian seperti lupa mematikan kompor saat memasak. “Saat ini baru permulaan musim kemarau, hujan sesekali juga turun, tetapi kebakaran sudah mencapai angka 17 rumah, dan itu sangat banyak,” kata Ketua Pelaksana BPBD Situbondo, Timbul Surjanto, Rabu (29/4).
Dia menambahkan, dalam satu minggu terakhir saja tercatat sekitar lima rumah mengalami kebakaran. Salah satunya terjadi di Dusun Sukerejo, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih. Di lokasi ini tiga rumah ludes terbakar. Penyebabnya bervariasi, mulai dari korsleting listrik hingga kelalaian saat memasak. “Untuk bulan April saja sudah ada sekitar sepuluh kejadian kebakaran rumah, gedung, dan permukiman. Ini merupakan awal musim yang kurang baik,” tambahnya.
Dia juga mengingatkan bahwa ke depan Situbondo akan menghadapi puncak musim kemarau dengan suhu yang lebih panas. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan jumlah kejadian kebakaran jika tidak diantisipasi sejak dini. “Kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada, tidak membakar sampah sembarangan, serta rutin memeriksa kompor dan instalasi listrik untuk mengurangi risiko kebakaran,” ujarnya.
BPBD juga terus melakukan edukasi dan mitigasi kepada masyarakat terkait potensi kebakaran yang sebagian besar terjadi akibat kelalaian.
Sementara itu, Humas Damkar Situbondo, Hidayat, menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi di beberapa wilayah rata-rata disebabkan oleh kelalaian, seperti lupa mematikan api atau membakar sampah yang kemudian merembet ke rumah. “Mudah-mudahan ke depan angka kebakaran bisa berkurang, mengingat saat ini jumlahnya sudah cukup tinggi,” ujarnya.
Dayat, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya berlangsung sekitar empat hingga lima bulan, kali ini bisa lebih lama. Ia juga menegaskan bahwa kejadian kebakaran sulit diprediksi.
Karena itu, pihaknya terus memberikan imbauan dan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu terjadinya kebakaran. “Kami harus lebih ekstra dalam melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran. Semoga ke depan kita semua diberi keselamatan dan mampu mengantisipasi hal tersebut,” pungkasnya. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono