RADARSITUBONDO.ID - Sementara itu, Komisaris PT Budidaya Tampora, Liauw Willy Wijaya, menegaskan bahwa warga yang menggelar demo jumlahnya segelintir orang. Mereka yang berunjuk rasa hanya dari salah satu keluarga warga. Kebetulan keluarga dia cukup banyak.
“Sebenarnya (masalah) ini tidak rumit. Rumitnya hanya tiga. Satu, warga yang bandel yang sebenarnya menduduki yang kita punya. Dua, digoreng sama LSM. Tiga, kepala desa yang mendukung pihak warga yang menyoal,” ucap Welly saat di temui di kantor PT Hongxin, Situbondo.
Willy mengaku memiliki kontribusi besar dalam menarik investor asing ke Situbondo. Dia telah membawa lima perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) untuk berinvestasi di Situbondo. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di bidang pengolahan rumput laut, antara lain PT Hong Xin, PT Yu Xin, PT Fuyuan, PT Green One, dan PT Liva.
“Situbondo menjadi pusat produksi rumput laut terbesar di Indonesia. Bahan bakunya didatangkan dari berbagai daerah seperti Kalimantan, NTT, dan NTB, lalu diproduksi di situbondo. Ini banyak yang belum tahu” jelasnya.
Dikatakan, Keberadaan pabrik-pabrik tersebut turut memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Ribuan warga kini bekerja di sektor industri ini, dengan masing-masing pabrik mampu menyerap ratusan tenaga kerja. “Saya sudah berbuat banyak, buktinya ribuan orang sudah bisa kerja di pabrik-pabrik yang sudah saya bawa. Sekarang malah difitnah mau intimidasi warga. Gak mungkin,” tutup Wiily. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono