Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Warga Kalianget Geruduk Polres Situbondo, Ketakutan Usai Dengar 3 Kali Tembakan Saat Konflik HGU

Moh Humaidi Hidayatullah • Minggu, 31 Mei 2026 | 19:17 WIB
CARI KEADILAN: Puluhan warga Dusun Karang Malang, Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, menggelar aksi damai di Mapolres Situbondo, Sabtu lalu (30/5). (HUMAIDI/JPRS)
CARI KEADILAN: Puluhan warga Dusun Karang Malang, Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, menggelar aksi damai di Mapolres Situbondo, Sabtu lalu (30/5). (HUMAIDI/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID - Sejumlah warga Dusun Karang Malang, Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur menggelar aksi damai di Mapolres Situbondo, Sabtu lalu (30/5). Mereka meminta perlindungan pasca mendengar bunyi tembakan pekan lalu (19/5). Selain itu, juga ada dugaan intimidasi terhadap warga dari PT. Budidaya Tampora.

Yati, 70, salah satu warga yang memiliki rumah dekat dengan lokasi PT. Budidaya Tampora, mengaku, kedatangannya untuk menyampaikan langsung keluhan kepada anggota Polres Situbondo. Sebab, sejak terjadi konflik tanah HGU antara warga dengan PT Budidaya Tampora, mereka merasa keamanan menjadi terusik. “Itu saat mau ada mediasi terjadi suara tembakan sampai tiga kali. Ya warga sekitar ketakutan. Anak-anak yang main layangan kabur semua. Suara tembakan itu terjadi sekitar pukul 11.30,” ujar Yati.

Dia mengaku, suara tembakan tersebut terdengar sangat nyaring. Sebab rumah Yati dan kantor gedung yang ditempati oleh Welly sangat dekat. ”Saya dengar suara tembakan pada saat berada di rumah. Begitu dengar suara tembakan saya cari cucu saya. Ternyata sudah kabur dari lokasi main layangan,” katanya.

Ketegangan warga semakin bertambah begitu ada sebaran video yang berisi Direktur PT Budidaya Tampora, Willy, memegang senjata api. Dalam Video tersebut, Welly berbicara lantang kalau lahannya mau dirampok. “Ada videonya kalau Welly lagi pegang senjata di dalam ruangan,” tegasnya.

Yati yang datang didampingi oleh dua saudara kandungnya menegaskan, area yang selama ini sempat dijadikan tempat mencari nafkah sudah berada dalam penjagan ketat. “Jadi tambak  yang pernah dikerjakan saya sejak saya masih kecil, saat ini sudah dijaga ketat. Saya sudah tidak bisa masuk ke lokasi tambak. Padahal, dari dulu jadi sumber penghasilan kami. Kalau kami ke lokasi tambak diancam mau dipukul,” ucap Yati.

Diberitakan sebelumnya, Sabtu (30), bahwa berita kasus Direktur PT. Budidaya Tampora, Welly, yang diduga mengancam peserta mediasi HGU dengan meletuskan tembakan, dibantah oleh sejumlah saksi yang ada di tempat kejadian. Salah satunya adalah Hasan Basri.

Saat berkunjung ke Kantor Biro Jawa Pos Radar Situbondo, dia menerangkan bahwa kejadian Welly menggunakan senjata api dengan kejadian mediasi bersama warga, adalah momen yang berbeda. “Pak Wely menembak itu terjadi pagi menjelang siang. Sedangkan pertemuan dengan warga dilakukan di siang hari,” terang Hasan Basri. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #intimidasi #tambak udang