Ketika musim giling tiba, para pedagang di pinggir Jalan Pantura yang berada di utara Alun-alun Asembagus tampak aktif membersihkan dagangan yang dipajang. Prilaku itu dilakukan secara berkala agar abu hitam yang diduga kuat tolato dari PG Asembagus tidak menodai keindahan lapak dagangan.
Jika penjual telat membersihkan, debu halus itu menempel di permukaan buah, mengendap di sela potongan, bahkan menodai mika. Warna merah semangka jadi kusam. Kuning melon seperti kena jelaga.
“Kalau pembeli yang dari jauh banyak yang tanya, kok buahnya banyak abu hitamnya. Kalau yang warga Situbondo biasanya langsung tanya apakah yang hitam itu tolato PG Asembagus?,” ujar salah satu pegang buah pada jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo, Minggu (14/6).
Dikatakan, tolato yang berterbangan sangat banyak, bentuknya ada dua. Ada yang halus ada juga yang besar. Kadang ada yang masih berbentuk daun tebu. Itu terjadi sejak dilakukan giling tebu oleh PG Asembagus.
“Itu lihat sendiri debunya besar-besar ya, begitu dah tiap hari. Padahal uda rutin dibersihkan, tetap aja ada,” kata perempuan berhijab yang enggan namanya disebutkan.
Dia mengaku, keluhan pedagang semuanya sama. Yaitu terlalu banyak abu terbang dari bekas pembakaran di PG Asembagus. Dia berharap manager PG Asembagus memiliki terobosan yang baru untuk bisa menekan penyebaran tolato.
“Ini sudah tradisi tahunan, masak pihak PG tidak bisa mengatasi tolato. Sekarang kan sudah serba canggih. Harapan ya agar tidak ada tolato saja. Soalnya terlalu parah, coba mobil atau motor parkir sebentar saja, terus lihat pasti uda nempel tolatonya,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Minggu lalu (7/6), bahwa pihak pabrik gula memastikan sudah berupaya semaksimal mungkin agar abu tidak menyebar. Bahkan abu yang berhasil ditangkap mencapai kurang lebih 21 ton dalam sehari.
“Setiap tahun sudah dilakukan perbaikan agar tolato tidak menyerang rumah-rumah warga. Memang ada yang lolos tapi tidak banyak,” ucap Dedi Anggara, Asisten Manager Bagian Teknik PG Asembagus. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono