RADARSITUBONDO.ID – Setelah keluhan warga mengenai sebaran tolato yang masuk ke rumah-rumah di sekitar pabrik mencuat, manajemen PG Panji akhirnya memberikan penjelasan. Perusahaan mengakui sebagian debu yang beterbangan ke permukiman berasal dari abu kering di bak pengendap yang terbawa angin saat musim kemarau. Di sisi lain, pabrik mengklaim sistem water dust scrubber mampu menangkap sekitar 40 ton karbon atau abu ketel setiap 24 jam sebagai upaya mengendalikan emisi.
Penjelasan tersebut disampaikan melalui H. Hari yang mewakili Manajer Teknik PG Panji, Bahtiar Yudistira. Menurutnya, teknologi pengendali emisi yang terpasang di cerobong ketel bekerja setiap hari dan selalu diawasi oleh tenaga mekanik agar tetap berfungsi optimal.
"Water dust scrubber setiap hari mampu menangkap karbon atau abu ketel dari gas buang ketel kami kurang lebih 40 ton dalam 24 jam. Water dust scrubber kami setiap hari diperiksa oleh tenaga mekanik ketel untuk memastikan dapat berfungsi dengan baik," ujar Hari.
Meski demikian, manajemen tidak menampik masih adanya sumber debu lain yang berpotensi menyebar ke lingkungan. Debu tersebut berasal dari abu hasil pembakaran yang mengering di bak pengendap, kemudian beterbangan ketika tertiup angin.
Menurut Hari, kondisi itu semakin mudah terjadi karena dalam dua pekan terakhir wilayah Situbondo mulai memasuki musim kemarau dengan cuaca panas dan angin yang lebih kencang.
Manajemen menyebut fenomena tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya tolato yang dikeluhkan masyarakat di sekitar area pabrik.
Sebagai langkah pengendalian, PG Panji mengaku melakukan penyiraman secara rutin pada area penampungan abu agar material yang sudah mengering kembali lembap sehingga tidak mudah beterbangan.
"Kami tetap berupaya untuk mengendalikan masalah dengan penyiraman air untuk pembasahan abu kering di emplasemen pabrik agar debu kering yang ada tidak menyebar ke warga. Pengendalian gas buang agar ke depannya tidak sampai mengganggu masyarakat sekitar PG Panji," pungkas Bahtiar melalui keterangannya.
Pernyataan tersebut menjadi respons pertama manajemen setelah sebelumnya sejumlah warga mengeluhkan sebaran tolato yang masuk ke rumah, menempel di lantai, perabot, hingga kendaraan. Keluhan itu bahkan membuat sebagian warga mengaku harus membersihkan rumah berulang kali setiap hari akibat debu hitam yang diduga berasal dari aktivitas pabrik gula. (hum/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo